Berita Anggrek Bukan Sekedar Tanaman Hias

    Anggrek Bukan Sekedar Tanaman Hias

    0
    Bagikan

    Anggrek dikenal sebagai tanaman hias populer yang dimanfaatkan bunganya. Bunga anggrek sering dijadikan sebagai simbol dari rasa cinta, kemewahan, dan keindahan selama berabad-abad. Bangsa Yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan, sedangkan bangsa Tiongkok pada zaman dahulu kala memercayai bahwa anggrek sebagai tanaman yang mengeluarkan aroma harum dari tubuh Kaisar Tiongkok.

    Merujuk pada buku Anggrek Species Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Perbenihan Hortikultura Tahun 2012, telah diidentifikasi sekitar 750 famili, 43.000 spesies, dan 35.000 varietas hibrida anggrek dari seluruh penjuru dunia. Kurang lebih 5.000 spesies di antaranya diketahui merupakan spesies asli Indonesia yang tumbuh di hutan belantara maupun dibudidayakan oleh masyarakat pecinta tanaman hias.

    Dari jumlah itu, 986 spesies terkenal di hutan-hutan di Pulau Jawa, 971 spesies di Pulau Sumatera, 113 spesies di Kepulauan Maluku, dan sisanya dapat ditemukan di Sulawesi, Irian Jaya, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Diperkirakan sekitar 500 spesies adalah komoditas yang komersial untuk dikembangkan.

    Prospek Tanaman Anggrek di Indonesia

    Di Indonesia sendiri, tanaman anggrek menempati posisi penting dalam industri florikultura (tanaman hias). Akibatnya, bunga yang tergolong dalam keluarga Orchidaceae ini diupayakan agar bisa bersaing di pasar internasional. Dilansir dari hortikultura.pertanian.go.id, Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto memberikan pendapatnya mengenai keberlangsungan anggrek di Indonesia.

    “Bisnis anggrek ini memang unik dan spesifik mulai dari aspek produksi hingga pemasarannya. Pangsa pasarnya lebih ke kebutuhan estetika, sehingga nilai jualnya bisa tinggi. Nah, negara kita punya plasma nutfah anggrek yang besar. Indonesia bisa menjadi pemasok anggrek yang diperhitungkan di pasar dunia,” ujarnya saat mengunjungi kebun Pembibitan Anggrek PT Ekakarya Graha Flora di Purwakarta Jawa Barat (9/02). Perusahaan tersebut dikenal sebagai produsen anggrek bulan (phalaenopsis) dan anggrek dendrobium dalam bentuk tanaman dan benih.

    Dilihat dari segi harga, anggrek memiliki variasi harga yang beragam. Tergantung pada jenis, ukuran, kualitas bunga, dan kelangkaannya. Dilansir dari beberapa sumber, untuk satu polybag tanaman anggrek memiliki harga yang berada di kisaran Rp100-180 ribu, tergantung jumlah bunga dan ukurannya.

    Pada beberapa jenis anggrek tertentu harganya tergolong mahal, bahkan ada yang ditaksir harganya mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, seperti anggrek hitam papua, anggrek shenzhen nongke, dan anggrek emas kinabalu. Oleh karena harga jualnya tergolong tinggi, dan adanya dukungan dari pemerintah dalam pembudidayaan tanaman anggrek, maka tidak sedikit yang mulai berbisnis tanaman hias ini.

    Produksi Anggrek di Indonesia

    Mengacu pada Statistik Tanaman Hias Indonesia 2018, luas panen tanaman anggrek di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 176,77 hektar dengan produksi sebanyak 24.717.840 tangkai. Jumlah produksi tersebut mengalami kenaikan sebesar 23,31 persen dibanding tahun 2017, yang sekaligus merupakan kenaikan terbesar keempat untuk komoditi tanaman hias tahun 2018.

    Sumber : Statistik Tanaman Hias Indoensia 2018

    Berdasarkan diagram diatas, sentra produksi tanaman anggrek didominasi oleh Pulau Jawa. Jawa Barat menjadi Provinsi penghasil anggrek terbesar pada tahun 2018, dengan kapasitas produksi sebesar 8,17 juta tangkai atau sekitar 33,05 persen dari total produksi nasional. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Banten dan Jawa Timur dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 7,03 juta dan 5,69 juta tangkai.

    Ekspor Anggrek

    Berbicara mengenai pasar internasional, anggrek berada di deretan atas sebagai tanaman hias dengan volume ekspor yang cukup menjanjikan. Pada tahun 2018 saja, seberat 51,9 Ton tanaman anggrek berhasil diekspor ke beberapa negara. Pada tahun sebelumnya, tanaman anggrek yang berhasil diekspor ialah seberat 40,6 Ton.

    Ini berarti pada tahun 2018 volume ekspor tanaman anggrek mengalami kenaikan sebesar 27,92 persen. Fakta ini sekaligus menempatkan anggrek sebagai tanaman hias yang memiliki volume ekspor terbesar kedua setelah krisan pada tahun tersebut. Negara yang menjadi pengimpor anggrek dari Indonesia pada tahun 2018 yaitu Jepang, Singapura, Korea, Jerman, Belanda, Selandia Baru, dan Amerika.

    Diantara negara pengimpor tersebut, Jepang menjadi pengimpor anggrek terbesar dengan volume anggrek yang diimpor seberat 20,9 Ton. Para penggemar anggrek asal Jepang menyukai anggrek dari Indonesia karena lebih bervariasi dan tahan lama.

    Masih mengacu pada Statistik Tanaman Hias Indonesia 2018, konsep yang digunakan Pemerintah, dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS), untuk menentukan nilai barang ekspor adalah nilai FOB (Free On Board) dalam dolar AS. Secara sederhana, FOB adalah nilai barang di pelabuhan muat. Nilai FOB pada komoditi anggrek tahun 2018 tercatat sebesar 339.686 US$. Naik sebesar 15,95 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 292.963 US$.

    Hasil ekspor anggrek tersebut tentu saja akan meningkatkan devisa negara, yang nantinya akan diperhitungkan ke dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Meskipun share dari anggrek terhadap PDB tidak begitu besar, namun tetap saja anggrek memiliki kontribusi yang perlu dilaporkan.
    Sudah indah dipandang, membanggakan, membuka lapangan usaha lebih luas, meningkatkan devisa negara pula. Mari kita budidayakan tanaman hias anggrek.

    Ditulis oleh : Dicki Abdurohman

    Loading...

    BERI BALASAN

    Please enter your comment!
    Please enter your name here