Aspek Mutu Beras Berdasarkan SNI

Aspek Mutu Beras Berdasarkan SNI

0
SHARE

KABARTANI.com – Aspek Mutu Beras Berdasarkan SNI. Dalam pemanenan, ketika masuk dalam tahap perontokan padi, akan dihasilkan butiran gabah. Butiran gabah tersebut kemudian dikeringkan dan digiling untuk dihasilkan beras. Pada proses penggilingan pertama menghasilkan beras pecah kulit (BPK) dan sekam. BPK kemudian disosoh untuk menghasilkan beras putih beserta dedak atau bekatul.

Di pasaran, beras yang beredar pada umumnya berupa beras giling sempurna atau yang sering disebut beras putih. Jenis beras merah dan hitam biasanya dipasarkan dalam bentuk beras pecah kulit atau disosoh sebagian.

Simak juga : Cara Mencegah Serangan Kutu Beras

Bentuk dan penampilan beras merupakan karakteristik pertama yang biasa diamati oleh konsumen dalam membeli beras yang berkualitas. Karakteristik bentuk beras yang beragam disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Kenampakan beras lebih banyak dipengaruhi oleh operasional proses penggilingan yang merupakan gabungan antara jenis dan kemampuan mesin, kompetensi operator dan mutu gabah yang digiling.

Aspek bentuk dan kenampakan beras terdiri dari panjang (ukuran) dan bentuk butir. Secara umum, ukuran panjang beras terdiri dari panjang (long grain), sedang (medium grain), dan pendek (short grain).

Bentuk beras terdiri dari bulat (bold), medium, dan ramping (slender). Berikut klasifikasi ukuran panjang dan bentuk secara lengkap yang berdasarkan standar proses pemuliaan tanaman padi secara umum:

Klasifikasi Ukuran Panjang dan Bentuk Beras

Ukuran

Panjang (mm)

Bentuk

Rasio panjang/lebar butir

Sangat panjang >> 7.5 Ramping >> 3.0
Panjang 6.61 – 7.5 Medium 2.1 – 3.0
Sedang 5.51 –  6.6 Bulat < 2.0
Pendek < 5.5  

Berikut contoh panjang dan bentuk beras sesuai dengan deskripsi ukuran pada Tabel diatas.

Panjang dan Bentuk Beras Sesuai dengan Deskripsi Ukuran
Panjang dan Bentuk Beras Sesuai dengan Deskripsi Ukuran

*) satu kotak mewakili 1 mm

Mutu beras juga ditentukan oleh kenampakan dan keutuhan bentuknya. Mutu beras dikatakan baik jika memiliki persentase beras utuh dan beras kepala yang tinggi. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 6128 tentang beras (2015), beberapa definisi terkait bentuk beras sebagai berikut:

  • Beras utuh: butir beras yang tidak patah sama sekali.
  • Beras kepala: butir beras dengan ukuran lebih besar atau sama dengan 80% bagian butir beras utuh.
  • Beras patah: butir beras dengan ukuran berkisar antara 20-80% bagian butir beras utuh.
  • Beras menir: butir beras dengan ukuran kurang dari 20% bagian dari butir beras utuh.
  • Butir beras merah: beras berwarna merah akibat factor genetik.
  • Butir beras kuning: butir beras berwarna kuning kecoklatan akibat proses penanganan atau akibat aktivitas serangga.
  • Butir beras mengapur: butir beras yang berwarna seprti kapur (chalky) dan bertekstur lunak yang disebabkan oleh faktor fisiologis.
  • Butir beras rusak: semua butir beras yang berwarna putih bening, putih mengapur, kuning, dan merah dengan banyak bintik (noktah) yang disebabkan oleh proses fisik, kimiawi, dan biologi. Beras dengan bintik kecil tunggal tidak termasuk butir rusak.

Simak juga : Perbandingan Kandungan Gizi Antara Sorgum dan Beras

Berikut gambar ilustrasi tingkat keutuhan (dan kepatahan) butir beras berdasarkan SNI.

Ilustrasi Tingkat Keutuhan (Dan Kepatahan) Butir Beras Berdasarkan SNI
Ilustrasi Tingkat Keutuhan (Dan Kepatahan) Butir Beras Berdasarkan SNI

Gambar berikut menunjukkan contoh beras patah dan butir mengapur yang berada diantara beras patah.

Contoh beras patah dan butir mengapur yang berada diantara beras patah.
Contoh beras patah dan butir mengapur yang berada diantara beras patah.

Sumber : bbpadi.litbang.pertanian.go.id