Hortikultura Sayuran Cara Budidaya Bawang Daun Hasil Melimpah

Cara Budidaya Bawang Daun Hasil Melimpah

0
Bagikan

Kabartani.com – Bawang daun yang termasuk dalam famili Liliaceae ini mempunyai aroma dan rasa yang khas, sehingga banyak digunakan untuk campuran masakan seperti soto, sop dan banyak dibutuhkan oleh perusahaan mie instan.

Bawang daun yang banyak dibudidayakan di Indonesia ada 3 (tiga) macam, yaitu:

  • Bawang prei atau leek (Allium porum L.), tidak berumbi dan mempunyai daun yang lebih lebar dibandingkan dengan bawang merah maupun bawang putih, pelepahnya panjang dan liat serta bagian dalam daun berbentuk pipih.
  • Kucai (Allium schoercoprasum), mempunyai daun kecil, panjang, rongga didalam daun kecil dan berwarna hijau, serta berumbi kecil.
  • Bawang bakung atau bawang semprong (Allium fistulosum), berdaun bulat panjang dengan rongga dalam daun seperti pipa, kadang-kadang berumbi.

Syarat Tumbuh

Bawang daun cocok tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian 250-1500 m dpl, dengan jenis tanah Andosol (bekas lahan gunung berapi) atau tanah lempung berpasir. Curah hujan 150-200 mm/tahun dan suhu harian 18-25°C dan pH netral (6,5-7,5).

Tahapan Budidaya Bawang Daun, adalah sebagai berikut:

1. Benih

Gambar 1. Penyiapan bibit bawang daun dari tunas/anakan

Benih bawang daun dapat berasal dari biji atau dari tunas/anakan. Tunas/anakan diperoleh dengan cara memisahkan anakan yang sehat dan bagus pertumbuhannya dari induknya. Benih bawang yang berasal dari biji mempunyai kelemahan, yaitu waktu panen yang lebih lama dibandingkan dengan benih yang berasal dari tunas anakan.

2. Persemaian

Bibit dari tunas/anakan dapat langsung ditanam di lapangan dengan terlebih dahulu mengurangi perakarannya untuk mengurangi penguapan. Benih dari biji harus disemai dahulu sebelum ditanam di lapangan.

Media semai berupa campuran pupuk kandang dan tanah (1:1) yang telah digemburkan. Biji disebar secara merata kemudian ditutup dengan lapisan tanah tipis (dengan ketebalan 0,5-1 cm) dan disiram secukupnya. Bibit siap dipindahkan ke lapangan bila telah mempunyai 2-3 helai daun.

3. Penyiapan Lahan

Lahan dicangkul dengan kedalan 30-40 cm, kemudian ditambahkan pupuk kandang. Hal ini dilakukan karena bawang daun menghendaki tanah yang gembur untuk pertumbuhannya. Kemudian siapkan bedengan dengan lebar 1-1,2 m dengan panjang sesuai dengan kondisi lahan.

Parit antar bedengan dibuat dengan kedalaman 30 cm dan lebar 30 cm. Pembuatan parit sangat diperlukan agar drainase lancar, karena bawang daun tidak menyukai adanya genangan air. Jarak tanah yang digunakan 20 x 25 x 25 x 25 cm atau 20 x 30 cm.

4. Pemupukan

Pupuk kandang (10-15 ton/ha), SP 36 (100 kg/ha) dan KCI (75 kg/ha) diberikan pada saat pengolahan tanah. Pupuk lain yang diperlukan yaitu pupuk Urea 200 kg/ha yang diberikan 2 kali pada 21 hari (setelah dosis) dan sisanya pada 42 hari setelah tanam.

Pemupukan dilakukan dengan membuat larikan kurang lebih 5 cm di kiri dan kanan batang, dan menamburkan pupuk pada larikan tersebut lalu ditimbun kembali dengan tanah.

Gambar 2. Pemberian pupuk kandang dan penanaman bibit bawang daun

5. Penanaman

Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam kecil dan bibit atau tunas anakan dengan posisi tegak lurus ditimbun dengan tanah kembali lalu disiram.

6. Pemeliharaan Tanaman

Penyiangan terhadap gulma dapat dilakukan bersamaan dengan pendangiran untuk menggemburkan tanah yang mungkin mengalami pemadatan. Penimbunan pangkal batang secara bertahap diperlukan untuk mendapatkan warna putih pada batang semu bawang daun.

Bawang daun berkualitas mempunyai batang semu yang berwarna putih dengan panjang kurang lebih 1/3 dari keseluruhan tanaman. Batang semu yang berwarna putih rasanya lebih enak, sedangkan yang berwarna hijau lebih liat, sehingga kurang disukai.

Penyiraman harus dilakukan terutama bila bawang daun ditanam pada musim kemarau, sedangkan apabila ditanam di musim penghujan drainase harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi genangan air di lahan.

7. Pengendalian OPT

Hama yang banyak ditemukan di pertanaman bawang daun antara lain, yaitu Agrotis sp. (menyebabkan batang terpotong dan putus, sehingga tanaman mati), Spodoptera exigua (ulat bawang yang memakan daun), dan Thrips tabaci (menghisap cairan daun).

Pengendalian ulat bawang secara mekanis dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur dan memusnahkannya. Pengendalian secara kimiawi dapat menggunakan insektisida yang efektif seperti klorantraniprol.

Penyakit yang menyerang tanaman bawang daun adalah Erwinia carotovora dengan gejala berupa busuk lunak, basah dan mengeluarkan bau yang tidak enak. Selain itu juga penyakit bercak ungu (Alternaria porri) yang menyerang daun.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit dan sanitasi kebun agar tidak lembab. Kondisi kebun yang kotor dan lembab menyebabkan penyakit berkembang dengan cepat.

8. Panen dan Pascapanen

Tanaman bawang daun sudah bisa dipanen pada umur 2 bulan setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan mencabut seluruh bagian tanaman termasuk akar. Buang akar dan daun yang busuk atau layu. Apabila bawang daun akan ditanam kembali pada pertanaman berikutnya, maka dilakukan pemilihan tunas anakan yang sehat dan bagus pertumbuhannya, kemudian dipisahkan dari bagian tanaman yang hendak dijual.

Sortasi sederhana dilakukan dengan mengelompokkan rumpun yang berdaun besar dan rumpun yang berdaun kecil. Pengikatan rumpun daun dilakukan dengan lebih dahulu memberi alas pada bagian luar rumpun, sehingga ikatan tidak langsung mengenai rumpun bawang daun. Bawang daun tidak dapat disimpan lama, sehingga sebaiknya segera dipasarkan agar mutunya masih terjaga saat sampai ke tangan konsumen.

Simak juga:

Ditulis oleh: Uum Sumpena (Balitsa Lembang)

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here