Pertanian Hama Pertanian Cara Efektif Kendalikan Penyakit TUNGRO pada Tanaman Padi

Cara Efektif Kendalikan Penyakit TUNGRO pada Tanaman Padi

0
Bagikan

Kabartani.comTungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi di Indonesia. Namun pengendalian penyakit ini cukup mudah dan murah jika petani dapat mengenali gejala serangannya, epidemiologi penyakit tungro, dinamika populasi wereng hijau, hingga strategi pengendaliannya

Tanaman padi yang terserang penyakit tungro memperlihatkan gejala yang khas, yakni perubahan warna daun muda menjadi kuning sampai jingga yang diikuti oleh melintirnya daun. Pertumbuhan tanaman padi menjadi terhambat dan kerdil karena jarak antar buku memendek.

Selain itu, ciri yang lainnya dimana jumlah anakan berkurang (tanaman muda lebih rentan) dan gabah akan berubah bentuk, sehingga tanaman tidak akan memberikan hasil sesuai potensinya. Tungro menyerang pertanaman padi mulai umur persemaian hingga 90 hari setelah tanam (HST).

Epidemiologi Penyakit Tungro

Penyakit tungro disebabkan oleh infeksi ganda dari dua jenis virus yang berbeda yaitu rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan rice tungro spherical virus (RTSV). Penyakit ini paling cepat ditularkan oleh vektor utama yakni spesies wereng hijau (Nephotettix virescens). Namun demikian, efektivitas penyebaran tungro oleh setiap spesies wereng hijau berbeda-beda di setiap daerah endemis.

Penyebaran penyakit tungro dapat meluas secara cepat apabila terdapat kepadatan populasi wereng hijau dan adanya sumber inokulum tungro. Sumber inokulum tungro diantaranya adalah tanaman padi yang terinfeksi tungro, singgang, gulma, atau tanaman yang tumbuh dari biji tercecer (volunteer).

Penanaman varietas padi yang rentan terhadap serangan penyakit tungro, pertanaman yang tidak serempak, serta faktor lingkungan terutama musim hujan dan kelembapan yang tinggi, sangat menguntungkan bagi perkembangan wereng hijau.

Infeksi penyakit tungro dapat terjadi sejak di persemaian, atau pada kasus pertanaman padi serempak umumnya serangan terjadi setelah tanam. Pada daerah endemis tungro, serangan tungro dengan intensitas tinggi berpeluang terjadi pada pertanaman padi yang lebih lambat dari pertanaman di sekitarnya yang telah memasuki fase pembungaan.

Salah satu penciri tanaman dinyatakan terancam serangan tungro apabila pada umur 14 HST ditemukan 5 rumpun yang bergejala tungro dari 10.000 rumpun tanaman, atau pada umur 21 HST ditemukan 1 rumpun tanaman bergejala tungro dari 1.000 rumpun tanaman.

Kehilangan hasil akibat infeksi penyakit tungro bervariasi bergantung pada periode pertumbuhan tanaman saat terinfeksi, lokasi dan titik infeksi, musim tanam, dan ketahanan varietas.

Semakin muda tanaman terinfeksi semakin besar persentase kehilangan hasil yang ditimbulkan. Kehilangan hasil di pusat infeksi lebih tinggi daripada rumpun tanaman di pinggir infeksi. Selain itu, kehilangan hasil pada tanaman yang terinfeksi di musim hujan lebih tinggi daripada di musim kemarau.

Virus tungro tidak dapat berkembang pada tubuh wereng hijau, namun terdapat pada alat tusuknya (mulut). Wereng hijau efektif menularkan virus tungro paling lama 7 hari setelah akuisisi. Apabila tidak lagi menghisap tanaman yang terinfeksi tungro, maka wereng hijau menjadi serangga bebas virus tungro.

Sebaliknya jika menghisap tanaman yang terinfeksi, maka wereng hijau akan menjadi vektor aktif kembali. Selain itu, keefektifan penularan virus juga akan hilang setelah terjadi pergantian kulit.

Periode makan akuisisi wereng hijau untuk mendapatkan virus dari tanaman sakit antara 5-30 menit, sedangkan periode makan inokulasi untuk menularkan virus yang diperoleh antara 7-30 menit. Rentang waktu saat tanaman tertular dan munculnya gejala antara 6-15 hari.

Virus tungro tidak memerlukan masa inkubasi di dalam tubuh wereng hijau, sedangkan masa inkubasi pada tanaman berkisar antara 1-3 minggu. Virus tungro hanya ditularkan oleh wereng hijau secara semi persisten dan tidak terjadi multiplikasi virus di dalam tubuh vektor serta tidak terbawa pada keturunannya.

Ekobiologi Wereng Hijau

Tingkat infeksi awal penyakit tungro ditentukan oleh populasi wereng hijau infektif yang migrasi ke pertanaman. Perkembangan serangan selanjutnya ditentukan oleh persentase infeksi awal dan kepadatan populasi wereng hijau generasi pertama.

Populasi wereng hijau tidak meningkat sampai stadia anakan maksimum atau pembungaan pada lahan yang mengikuti rekomendasi pola tanam. Sehingga tanaman pada saat periode kritis dapat terhindar dari infeksi tungro. Tanaman pada fase pembentukan anakan (umur 30-45 HST) adalah fase yang paling mudah terserang dan paling kritis bagi perkembangan tungro.

Dinamika populasi wereng hijau pada pola tanam padi-padi-padi dapat berkembang sampai pertengahan pertumbuhan tanaman. Populasi wereng hijau tidak berkembang pada pola tanam padi-bera-padi atau padi-palawija-padi. Kepadatan populasi wereng hijau pada musim hujan dan musim kemarau tidak berbeda, tetapi puncak kepadatan populasi wereng hijau lebih tinggi pada musim hujan daripada musim kemarau.

Puncak kepadatan populasi tertinggi terjadi pada tengah fase pertumbuhan tanaman (8 minggu setelah tanam). Pada areal persawahan dengan waktu tanam padi yang tidak serempak, wereng hijau cenderung bermigrasi dari tanaman tua ke tanaman muda dan tanaman yang lebih peka.

Aktivitas wereng hijau yang berasal dari pola tanam tidak serempak cenderung lebih aktif daripada koloni yang berasal dari pola tanam serempak. Selain itu, aktivitas memencar wereng hijau dipengaruhi oleh kondisi pengairan lahan.

Aktivitas wereng hijau rendah pada kondisi macak-macak dan basah, tetapi aktivitasnya meningkat pada kondisi lahan kering. Tinggi rendahnya intensitas penyakit tungro berkorelasi positif dengan fluktuasi populasi wereng hijau jika tersedia sumber inokulum tungro.

Strategi Pengendalian Penyakit Tungro dan Populasi Wereng Hijau

Strategi pengendalian penyakit tungro dan populasi wereng hijau meliputi:

  1. Penanaman padi secara serempak pada area yang luas minimal 25 ha,
  2. Pengaturan waktu tanam agar tanaman padi berumur lebih dari 45 HST saat terjadinya puncak kepadatan populasi wereng hijau dan intensitas tungro,
  3. Pengolahan tanah dilakukan segera setelah panen, hal ini disebabkan untuk mencegah tumbuhnya singgang yang merupakan sumber inokulum tungro,
  4. Penanaman jajar legowo pada tanaman padi dengan sebaran ruang legowo, wereng hijau kurang aktif berpindah antar rumpun sehingga penyebaran tungro menjadi terbatas,
  5. Tidak menanam varietas rentan wereng hijau maupun rentan terhadap virus tungro dalam kurun waktu minimal 3 musim tanam,
  6. Apabila terjadi Luas Tambah Serangan (LTS) 2 kali dari luas serangan sebelumnya dan curah hujan >200 mm, maka hendaknya dianjurkan menanam varietas padi yang tahan serangan tungro,
  7. Gunakan karbofuran di persemaian dan pertanaman padi untuk daerah endemis,
  8. Pemupukan berimbang sesuai dosis sesuai dengan rekomendasi setempat,
  9. Pemusnahan sumber serangan: singgang, gulma, bibit tanaman, dan tanaman padi yang terinfeksi virus,
  10. Pergiliran tanaman dengan komoditas selain padi untuk daerah endemis atau dibedakan beberapa saat,
  11. Pengendalian vektor dengan agens hayati (Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana) dan pestisida botani (sambilata, mimba, mindi),
  12. Penggunaan insektisida sebelum semai dan tanaman fase vegetatif untuk daerah endemis dengan insektisida yang efektif dan masih direkomendasikan,
  13. Pengamatan yang intensif yang dilakukan oleh petani dan petugas pengamat hama dan penyakit-pengendali organisme pengganggu tanaman (PHP-POPT),
  14. Peningkatan pengetahuan petani melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT), dan

Apabila pengendalian hayati tidak mampu mengatasi hama dan penyakit, maka alternatif terakhir yang dilakukan adalah pengendalian menggunakan pestisida kimia. Namun tetap mengutamakan keseluruhan strategi pengendalian penyakit tungro dan populasi wereng hijau.

Sumber: Dini Yuliani (BPTP Subang, 2017)

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here