Sarana & Prasarana Pupuk & Pestisida Cara Memperbaiki Tanah Tercemar Pestisida dengan Bioremediasi

Cara Memperbaiki Tanah Tercemar Pestisida dengan Bioremediasi

1
Bagikan

Kabartani.com – Upaya untuk mengurangi kontaminasi pestisida di lahan pertanian yang tercemar sangat diperlukan. Mengingat bahaya pestisida yang dapat berpindah dari tanah ke tanaman pangan dan terakumulasi, sehingga dapat membahayakan manusia jika termakan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menggunakan bioremediasi.

Bioremediasi merupakan upaya memperbaiki tanah tercemar polutan terutama pestisida melalui aktivitas mikroba tanah maupun enzim yang dihasilkan. Penanganan cemaran melalui aktivitas mikroba akan terjadi tranformasi bahan-bahan yang dianggap berbahaya menjadi bahan-bahan yang kurang maupun yang tidak berbahaya (Santoso, 2008).

Perkembangan sektor pertanian telah mengakibatkan peningkatan pencemaran lingkungan oleh bahan kimia buatan manusia. Di antara polutan-polutan tersebut, terdapat polutan organik yang disebut organoklorin.

Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah (Ebichon dalam Soemirat, 2005).

Sejumlah mikroorganisme telah banyak diketahui mampu digunakan sebagai agen bioremediasi. Kelompok jamur yang telah dimanfaatkan yakni Trametes hirsutus, Phanerochaete chrysosporium, Phanerochaete sordida dan Cyathusbulleri untuk mendegradasi lindan dan pestisida yang lain. Akan tetapi, pada umumnya justru bakteri tanah yang sering digunakan untuk proses bioremediasi.

Doktor ilmu lingkungan Universitas Diponegoro Semarang, Dr. Slamet Isworo menemukan bakteri pengurai pestisida yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Setidaknya ada tiga bakteri pendegradasi atau pemecah kandungan pestisida di Rawa Pening, yakni Oceanpbacillus iheyis, Exiquobacterium profundus, dan Bacillus formis.

Hasil identifikasi secara morfologi, biokomia, dan biologi molekuler menyatakan bahwa ketiga spesies bakteri baru tersebut memiliki kemampuan degradasi yang baik terhadap Malathion dan Profenofos. Ketiga bakteri ini sanggup mendegradasi pestisida dalam waktu 192 jam.

Selain itu, telah dilaporkan juga bahwa beberapa bakteri seperti Flavobacterium sp., Pseudomonas sp., Agrobacterium sp. dan Arthrobacter sp. mampu mendegradasi pestisida dasinon dan organofosfat lain seperti chlorpyrifos, parathion dan methylparathion. Pseudomonas sp. mampu mendegradasi pestisida dasinon sangat tinggi, yakni hingga 87%.

Cara termudah yang bisa dilakukan oleh petani saat ini adalah dengan memanfaatkan penggunaan pupuk kompos organik. Perlu diketahui bahwa, bioremediasi in situ menggunakan pupuk kompos organik sangat efektif, karena mikroorganisme dalam kompos mampu mendegradasi residu pestisida dalam tanah.

Selain itu kompos mampu memperbaiki sifat fisik tanah, sifat biologis dan sifat kimia tanah untuk peningkatan kesuburan tanah.

Urea berlapis arang aktif yang diperkaya mikroba Bacillus juga mampu menurunkan residu aldrin, dieldrin, heptaklor dan DDT lebih dari 50%. Penggunaan arang aktif dilahan sawah dapat meningkatkan jumlah bakteri di dalam tanah terutama disekitar akar tanaman.

Dengan adanya arang aktif dapat meningkatkan populasi bakteri Azospirrillum sp., Bacillus sp., Chromobacterium sp., dan Pseudomonas sp.

Keuntungan Bioremidiasi:

  • Bioremediasi sangat aman digunakan karena menggunakan mikroba yang secara alamiah sudah ada dilingkungan (tanah).
  • Bioremediasi tidak menggunakan/menambahkan bahan kimia berbahaya.
  • Tidak melakukan proses pengangkatan polutan.
  • Teknik pengolahannya mudah diterapkan dan murah biaya.

Dari penjelasan di atas akan merunut pada pentingnya mengembangkan pertanian organik.

Pertanian organik penting dikembangkan agar tanah pertanian terhindar dari kerusakan akibat penggunaan zat-zat kimia. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat mengembangkan pertanian organik.

Simak juga :

Loading...

1 KOMENTAR

  1. Terimakasih infonya, daerah tempat kami merupakan daerah pusat persawahan padi di kabupaten banyuasin. Tapi semakin lama saya lihat tanahnya semakin keras akibat paparan urea yg intens setiap musim tanam. Pertanyaan saya apakah bioremediasi bisa dilakukan oada lahan basah seperti di sawah?

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here