Peternakan Penyakit Ternak Cara Mengatasi Infeksi Cacing Hati Pada Ternak Ruminansia

Cara Mengatasi Infeksi Cacing Hati Pada Ternak Ruminansia

0
Bagikan

Kabartani.comInfeksi cacing hati (fasciolosis) pada ternak ruminansia (sapi dan kerbau) di Indonesia merupakan penyakit parasiter yang disebabkan oleh cacing daun, Fasciola gigantica yang menyerang hati ternak.

Pengendalian fasciolosis pada ternak ruminansia pada prinsipnya memutus daur hidup cacing. Cara ini dapat memberikan hasil maksimal bila dilakukan secara massal dalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini mengingat bahwa penyebaran infeksi cacing hati melibatkan lingkungan (karena disebarkan oleh siput Lymnaea rubiginosa), pemanfaatan limbah pertanian (jerami padi), dan penggunaan padang gembalaan secara bersamaan di daerah tersebut.

Untuk itu, apabila seluruh peternak dalam satu wilayah melakukan pengendalian penyakit ini secara bersama-sama maka fasciolosis pada ternak akan dapat segera tertanggulangi. Beberapa pertimbangan yang perlu diambil dalam melaksanakan pengendalian dengan cara pengobatan pada ternak antara lain :

  • Tingkat pencemaran metaserkaria dalam hijauan,
  • Populasi siput Lymnaea rubiginos di lapangan,
  • Pencemaran telur cacing di lapangan,
  • Waktu yang diperlukan cacing hati untuk menjadi dewasa dalam tubuh ternak (PPP),
  • Potensi flukisida dalam membunuh cacing hati pada berbagai umur cacing di dalam tubuh ternak,

Pengendalian Penyakit Cacing Hati

Secara umum strategi penanggulangan penyakit ini didasarkan pada musim (basah dan kering) karena siklus tanam padi irigasi juga menyesuaikan kedua musim tersebut. Pada musim basah, populasi siput sangat tinggi yang mengakibatkan tingkat pencemaran metaserkaria pada hijauan juga tinggi, sedangkan petani dalam menghadapi musim tanam juga sangat sibuk.

Untuk itu pada musim basah ini pengendalian cacing hati lebih ditekankan pada tindakan-tindakan pencegahan terhadap infeksi dan atau menekan serendah mungkin untuk terjadinya pencemaran lingkungan oleh metaserkaria. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara :

1. Limbah kandang hanya digunakan sebagai pupuk pada tanaman padi apabila sudah dikomposkan terlebih dahulu, sehingga telur Fasciola sudah mati.

2. Mengandangkan sapi dan itik secara bersebelahan sehingga kotorannya tercampur sewaktu kandang dibersihkan.

3. Pengambilan jerami dari sawah dekat kandang, bila terpaksa dipakai sebagai pakan ternak harus dilakukan pemotongan sedikit di atas tinggi galengan atau sekitar 1-1,5 jengkal dari tanah.

4. Penyisiran jerami agar daun padi yang kering terlepas akan sangat mengurangi pencemaran oleh metaserkaria pada jerami.

5. Jerami yang diambil terlebih dahulu dijemur selama minimal 2-3 hari berturut-turut di bawah sinar matahari dan dibolak-balik selama penjemuran sebelum diberikan untuk pakan.

6. Tidak menggembalakan ternak di daerah berair dan atau pernah diairi dalam jangka waktu tertentu sehingga cocok sebagai habitat siput L. rubiginosa.

Pada musim kering, pengendalian fasciolosis lebih baik ditekankan untuk melakukan pengobatan pada ternak secara massal dalam suatu kelompok masyarakat. Jenis flukisida yang akan dipakai untuk pengobatan menentukan kapan dan berapa kali ternak harus diobati.

Untuk flukisida yang dapat membunuh segala umur cacing hati cukup dilakukan pengobatan sekali saja sekitar 6-8 minggu dari panen padi terakhir (Agustus), sedangkan apabila menggunakan obat cacing yang hanya mampu membunuh cacing dewasa saja sebaiknya dilakukan dua kali setahun yaitu pertama bulan Agustus dan kedua beberapa minggu sebelum musim penghujan tiba (awal Oktober).

Pemberian obat cacing pada ternak di musim kemarau ini akan bernilai ganda. Pertama dengan membunuh semua cacing hati yang ada pada ternak, maka ternak terbebas dari infeksi.

Kedua, karena tidak ada infeksi cacing hati baru (metaserkaria mati kekeringan dan kepanasan), maka limbah kandang yang dihasilkan ternak tidak mengandung telur cacing sehingga tidak terjadi pencemaran habitat siput oleh telur cacing di musim penghujan berikutnya. Waktu pengobatan ini ditetapkan dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan:

  • Pada musim kemarau, sebagian besar siput mati karena habitatnya kering, sehingga sisa-sisa telur cacing hati dalam tinja ternak tidak akan menemukan siput lagi bila menetas.
  • Metaserkaria yang masih tertinggal di lapangan akan mati kekeringan pada musim kemarau, sehingga tidak ada infeksi ulang pada ternak.
  • Dalam waktu yang bersamaan ternak dan lingkungan akan terbebaskan dari parasit. Ternak bebas infeksi cacing hati dan lingkungan bersih dari cemaran telur cacing maupun metaserkaria.

Pada musim kemarau ini juga merupakan kesempatan yang baik sekali untuk penyimpanan hijauan (jerami padi) yang dikeringkan, atau difermentasi terlebih dahulu sebelum disimpan.

Pengomposan limbah kandang baik secara alami maupun penambahan mikroba tertentu sangat baik untuk membunuh telur cacing, khususnya apabila proses dekomposisi limbah kandang dapat menghasilkan peningkatan suhu kompos melebihi 55°C, karena pada suhu tersebut semua jenis telur cacing akan mati.

Simak juga :

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here