Pertanian Tips Bertani Cara Menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk Rekomendasi Pemupukan

Cara Menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk Rekomendasi Pemupukan

0
Bagikan

Kabartani.com – Peta status P dan K dan tabel rekomendasi pemupukan yang dipakai sebagai acuan pemupukan P dan K selama ini sifatnya masih terlalu umum yang belum tentu sesuai dengan lahan sawah secara spesifik, akurat dan sederhana. Balai Penelitian Tanah Bogor telah menghasilkan alat bantu untuk menguji status hara P, K dan pH tanah spesifik akurat, dan simpel. Alat yang dimaksud adalah Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) atau Paddy Soil Test Kit (PSTK).

Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan alat untuk mengukur kadar hara P dan K serta pH tanah yang dapat dikerjakan oleh penyuluh lapangan atau petani secara langsung di lapangan. Hasil analisis P dan K tanah dengan PUTS ini selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pupuk P dan K spesifik lokasi untuk tanaman padi sawah, terutama padi varietas unggul (VUB, PTB dan Hibrida).

Prinsip kerja PUTS ini adalah mengukur hara P dan K tanah yang terdapat dalam bentuk tersedia, secara semi kuantitatif dengan metode kolorimetri(pewarnaan). Pengukuran kada P dan K tanah dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (TI).

Komponen Perangkat

Satu unit perangkat uji tanah sawah terdiri atas: (1) satu paket bahan kimia dan alat untuk ekstraksi kadar P, K dan pH, (2) bagan warna untuk penetapan kadar pH, P, dan K, (3) Buku Petunjuk Penggunaan dan Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah, dan (4) Bagan Warna Daun (BWD) untuk menetapkan takaran pupuk urea (Lihat Petunjuk Teknis Penggunaan Bagan Warna Daun).

Tahapan penggunaan PUTS

1. Persiapan contoh tanah: cara atau metode pengambilan contoh tanah
2. Proses ekstraksi contoh tanah
3. Proses pengukuran kadar hara dan penetapannya
4. Menetapkan rekomendasi pupuk

Cara Penggunaan

1. Pengambilan sampel tanah

Sebelum contoh tanah diambil perlu diperhatikan keseragaman areal atau hamparan, seperti topografi, tekstur tanah, warna tanah, kondisi tanaman, pe-ngelolaan tanah, dan masukan seperti pupuk, kapur, bahan organik dll, serta sejarah penggunaan lahan di areal tersebut. Untuk hamparan yang relatif seragam, satu contoh tanah komposit dapat mewakili 5 hektar lahan.

Alat yang digunakan

  • Bor tanah (auger, tabung), cangkul, atau sekop
  • Ember plastik untuk mengaduk kumpulan contoh tanah individu
  • Alat suntik (syringe)

Cara pengambilan contoh tanah komposit

  1. Tentukan titik pengambilan contoh tanah individu dengan salah satu dari empat cara, yaitu secara diagonal, zig-zag, sistematik atau acak.
  2. Contoh tanah sebaiknya diambil dalam keadaan lembab, tidak terlalu basah atau kering.
  3. Contoh tanah individu diambil dengan bor tanah, cangkul, atau sekop pada kedalaman 0-20 cm.
  4. Contoh tanah diaduk merata dalam ember plastik.
  5. Contoh tanah lembab yang sudah siap untuk dianalisis diambil dengan syringe dengan cara: (a) permukaan tanah lembab ditusuk dengan syringe sedalam 5 cm dan diangkat, (b) bersihkan dan ratakan permukaan syringe, didorong keluar dan potong contoh tanah setebal sekitar 0,5 cm dengan sendok stainless, lalu masukkan ke dalam tabung reaksi.

Hal yang perlu diperhatikan

Contoh tanah tidak boleh diambil dari galengan, selokan, tanah di sekitar rumah dan jalan, bekas pembakaran sampah atau sisa tanaman atau jerami, bekas timbunan pupuk, kapur, di pinggir jalan dan bekas peng-gembalaan ternak.

2. Pengukuran kadar hara

Secara garis besar urutan pengukuran kadar hara adalah sebagai berikut:

  1. Contoh tanah sebanyak 0,5 gr atau 0,5 ml dengan syringe dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
  2. Tambahkan pengekstrak kemudian diaduk dengan pengaduk kaca hingga tanah dan larutan menyatu. Kemudian tambahkan pengekstrak sesuai dengan urutannya.
  3. Diamkan larutan sekitar + 10 menit hingga timbul warna. Warna yang muncul pada larutan jernih dibaca atau dipadankan dengan bagan warna yang disediakan.
  4. Status hara P dan K tanah terbagi menjadi tiga kelas yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Untuk hara P diindikasikan oleh warna biru muda hingga biru tua, sedangkan untuk hara K diindikasikan oleh warna coklat tua, coklat muda, dan kuning.
  5. Rekomendasi pemupukan P dan K ditentukan berdasarkan statusnya.

Simak juga :

Kapasitas PUTS

Satu unit PUTS dapat digunakan untuk analisis contoh tanah sebanyak ±50 sampel. Jika PUTS dirawat dan ditutup rapat setelah digunakan maka bahan kimia yang ada di dalamnya dapat digunakan dengan batas waktu kadaluarsa 1,0-1,5 tahun kemudian. Jika salah satu atau beberapa pengekstrak dalam PUTS habis, isi ulangnya tersedia di Balai Penelitian Tanah.

Sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh (2011)

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here