Pertanian Tips Bertani Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi

Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi

0
Bagikan

KABARTANI.COM – Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi. Kebutuhan air tanaman adalah kebutuhan air yang digunakan selama musim tanam, dimulai dari proses penyiapan lahan hingga pasca panen.

Faktor-faktor yang menentukan besarnya kebutuhan air irigasi untuk tanaman adalah sebagai berikut :

  • Jenis tanaman

        Dapat dijelaskan bahwa jenis tanaman sangat menentukan jumlah kebutuhan airnya, misalnya tanaman padi, membutuhkan lebih banyak air dibandingkan tanaman lainnya seperti palawija.

  • Jenis Tanah

 Jenis Tanah sangat mempengaruhi pemakaian air bagi tumbuhan , misal tanah berpasir passti berbeda dengan jenis tanah lempung atau lumpur.

  • Kehilangan Air

        Maksud dari kehilangan air disini adalah saluran kadang kadang bisa menjadi besar dari perkiraan dari perhitungan karena adanya kebocoran bukan hanya penguapan.

  • Pemakaian Air

 Adapun cara pemakaian sangat mempengaruhi kebutuhan air,sehingga dalam hal cara pemakaian air, harus dipilih agar cara yang dilakukan hemat.

Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi.

Analisis kebutuhan air untuk  tanaman  padi di sawah dipengaruhi  oleh beberapa factor antara lain seperti berikut: pengolahan lahan, penggunaan konsumtif, perkolasi, penggantian lapisan air, dan sumbangan. hujan  efektif.

 Kebutuhan air total di  sawah  merupakan  jumlah  faktor  1  sampai  dengan  4, sedangkan  kebutuhan  netto  air  di  sawah  merupakan  kebutuhan  total  dikurangi faktor  hujan  efektif.  Kebutuhan  air  di  sawah  dapat  dinyatakan  dalam  satuan mm/hari ataupun lt/dt.

  1. Kebutuhan air untuk pengolahan lahan padi.

          Periode  pengolahan  lahan  membutuhkan  air  yang  paling  besar  jika dibandingkan  tahap  pertumbuhan.  Kebutuhan  air  untuk  pengolahan  lahan dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor,  diantaranya karakteristika  tanah, waktu  pengolahan, tersedianya  tenaga  dan  ternak,  serta mekanisasi pertanian. Kebutuhan  air  untuk  penyiapan    da pat  ditentukan  berdasarkan  kedalaman tanah  dan  porositas  tanah  di  sawah,  seperti  diusulkan  pada  Kriteria  Perencanaan Irigasi 1986 sebagai berikut :

   dengan  :

  • PWR    = kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm).
  • Sa  = derajad kejenuhan tanah setelah penyiapan laha n dimulai (%).
  • Sb  = derajad kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan dimulai (%).
  • N  = porositas ta nah, dalam % rata-rata per kedalaman tanah.
  • d = asumsi kedalaman tanah setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm).
  • Pd  = kedalaman gena ngan setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm).
  • F 1  = kehilangan air di sawah selama 1 hari (mm).

Kebutuhan  air  untuk  penyiapan  lahan  dapat  ditentukan  secara empiris sebesar 250 mm, meliputi kebutuhan untuk penyiapan lahan dan  untuk  lapisan air awal  setelah  transplantasi  selesai.  (Kriteria  Perencanaan  Irigasi  KP  01).  Untuk lahan yang sudah lama tidak ditanami (bero), kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat  ditentukan  sebesar  300  mm.  Kebutuhan  air  untuk  persemaian  termasuk dalam ke butuhan air untuk penyiapan lahan.

Analisis  kebutuhan  air  selama  pengolahan  lahan  dapat  menggunakan metode sepe rti diusulkan oleh Van de Goor dan Ziljstra (1968) sebagai berikut

Dengan  :

  • IR  = kebutuhan air untuk pengolahan lahan (mm/hari).
  • M  = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan (mm/hari).
  • Eo  = Evaporasi potensial (mm/hari).
  • P  = perkolasi (mm/hari).
  • k  = konstanta.
  • T  = jangka waktu pengolahan (hari).
  • S  = kebutuhan air untuk penjenuhan (mm).
  • e   = bilangan eksponen: 2,7182

  • Menghitung kebutuhan air untuk pengolahan lahan.

Jadi kebutuhan air selama pengolahan lahan adalah sebesar 11,69 mm/hari.

  1. Penggunaan konsumtif.

Penggunaan  air untuk kebutuhan  tanaman  (consumtive use )   dapat didekati dengan menghitung evapotranspirasi tanaman, yang  besarnya dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur  tanaman  dan  faktor  klimatologi. Nilai  evapotranspirasi merupakan jumlah dari evaporasi  dan  transpirasi.  Yang  dimaksud  dengan evaporasi  adalah proses perubahan molekul air di permukaan menjadi molekul air di  atmosfir.  Sedangkan transpirasi adalah  proses  fisiologis  alamiah  pada tanarnan,  dimana  air  yang  dihisap  oleh  akar  diteruskan  lewat  tubuh tanaman dan diuapkan  kembali  melalui  pucuk  daun.  Nilai  evapotranspirasi  dapat  diperoleh dengan  pengukuran  di  lapangan  atau  dengan  rumus-rumus  empiris.  Untuk keperluan  perhitungan  kebutuha n  air  irigasi  dibutuhkan  nilai  evapotranspirasi potensial  (Eto)  yaitu  evapotranspirasi  yang  terjadi  apabila  tersedia  cukup  air. Kebutuhan  air  untuk  tanaman  adalah  nilai  Eto  dikalikan  dengan  suatu  koefisien tanaman. ET = kc x Eto  dimana :

  • ET  = Evapotranpirasi tanaman (mm/hari).
  • ETo = Evaporasi tetapan/tanarnan acuan (mm/hari).
  • kc  = Koefisien tanaman.

Kebutuhan air konsumtif ini  dipengaruhi  oleh jenis dan usia tanaman (tingkat pertumbuhan tanaman). Pada saat tana man mulai tumbuh, nilai kebutuhan air konsumtif  meningkat  sesuai  pertumbuhannya  dan  mencapai  maksimum  pada saat pertumbuhan vegetasi maksimum. Setelah mencapai maksimum dan berlangsung beberapa  saat  menurut  jenis  tanaman,  nilai  kebutuhan air konsumtif akan menurun  sejalan dengan pematangan  biji. Pengaruh watak  tanaman terhadap kebutuhan tersebut dengan faktor tanaman (kc). Nilai koefisien pertumbuhan  tanaman ini tergantung jenis tanaman yang ditanam. Untuk tanaman jenis yang  sama juga berbeda menurut varietasnya. Sebagai contoh padi dengan varietas  unggul masa tumbuhnya lebih pendek dari padi varietas biasa.

Laju perkolasi sangat tergantung pada sifat-sifat tanah. Data-data mengenai perkolasi  akan  diperoleh  dari  penelitian  kemampuan  tanah  maka  diperlukan penyelidikan  kelulusan  tanah.  Pada  tanah  lempung  berat  dengan  karakteristik pengolahan  ( puddling )  yang  baik,  laju  perkolasi  dapat  mencapai  1-3  mm/hari. Pada  tanah-tanah  yang  lebih  ringan,  laju  perkolasi  bisa  lebih  tinggi.  Untuk menentukan  Iaju  perkolasi,  perlu  diperhitungkan  tinggi  muka  air  tanahnya. Sedangkan rembesan terjadi akibat meresapnya air melalui tanggul sawah.

  1. Penggantian lapisan air.

 Setelah pemupukan  perlu dijadwalkan  dan  mengganti  lapisan  air  menurut kebutuhan. Penggantian diperkirakan sebanyak 2 kali masing-masing 50 mm satu bulan dan dua bulan setelah transplantasi (atau 3,3 mm/hari selama 1/2 bulan).

  1. Hujan efektif.

Untuk menentukan besar sumbangan  hujan terhadap kebutuhan air oleh tanaman, terdapat beberapa cara, diantaranya secara empirik maupun dan simulasi. Kriteria  Perencanaan Irigasi  mengusulkan hitungan  hujan efektif berdasarkan data pengukuran curah hujan di setasiun  terdekat, dengan panjang pengamatan selama 10 tahun.

  1. Analisis kebutuhan air untuk padi di lahan.

Apabila  telah tersedia  data

  • evaporasi rerata. setengah bulanan.
  • data jenis tanah.
  • jenis (varitas) padi dan.
  • hasil analisis  curah  hujan efektif,

maka analisis kebutuhan air untuk tanaman padi di sawah dapat  dilakukan. Dalam modul ini disertakan program komputer sederhana untuk menganalisis kebutuhan air untuk tanaman padi.

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here