Perkebunan Hati-hati Melakukan Underplanting Sawit, Kenapa?

Hati-hati Melakukan Underplanting Sawit, Kenapa?

0
Bagikan

Kabartani.com – Pelaku perkebunan kelapa sawit di Indonesia bisa-bisa saja mengadopsi teknologi atau ide yang dikembangkan oleh negara jiran Malaysia. Namun harus hati-hati karena malah bisa memusingkan kita sendiri di kemudian hari.

Salah satunya adalah Teknik UNDERPLANTING dari Malaysia. Underplanting adalah penanaman bibit baru di bawah pohon lama yang sengaja tidak ditebang pada saat replanting. Pohon lama dibiarkan hidup dan terus dipetik buahnya.

Teknik underplanting berbeda dengan teknik replanting. Pada teknik replanting, tanaman tua ditumbangkan seluruhnya terlebih dahulu baru ditanami dengan bibit sawit yang baru.

Bahaya penerapan teknik underplanting, kalau dilakukan secara sembarangan malah bisa menghancurkan perkebunan kelapa sawit kita dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Beberapa perkebunan yang pernah saya kunjungi telah mengalami nasib seperti itu. Kasihan mereka telah termakan ide yang semula dipandangnya unggul. Memang ada keuntungan teknik underplanting dibanding teknik replanting. Diantaranya: hasil pemetikan buah bisa digunakan untuk menutup atau mengurangi beban biaya replanting.

Sebagian biaya replanting akan bisa tertutupi dan manajer kebun tentu akan mendapat nilai ”A”. Namun tunggu 8 sampai 10 tahun kemudian, bisa-bisa pohon sawit di lokasi tersebut sudah banyak bertumbangan. Akibatnya manajer kebun penggantinya mendapat nilai ”D” karena produksi kebun merosot terus. Mengapa terjadi demikian? Karena terjadi serangan ganoderma yang berat.

Ganoderma adalah cendawan patogen. Serangannya dapat mengakibatkan pembusukan pada pangkal batang kelapa sawit. Oleh karena itulah disebut busuk pangkal batang. Jika pangkalnya busuk sudah barang tentu tanaman akan mati dan tumbang.

Sementara ini hanya ganoderma yang bisa menumbangkan pohon sawit dewasa, meskipun mungkin bisa. Kejadian serangan ganoderma pada perkebunan kelapa sawit biasanya semakin meningkat dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi.

Lahannya yang Sakit

Lalu mengapa pelaksanaan underplanting harus dicermati? Meskipun serangan ganoderma dapat dilihat terjadi pada tanaman kelapa sawit namun pada hakekatnya yang sakit adalah lahannya. Lahan perkebunan kelapa sawit yang sakit ditandai dengan terdapatnya inokulum ganoderma dalam kuantitas dan kualitas yang tinggi.

Sesuci apapun bibit yang ditanam pada lahan tersebut dapat dipastikan akan terserang ganoderma. Jadi sebaiknya underplanting pada lahan dengan tingkat serangan ganoderma yang tinggi tidak dilakukan karena kerugian yang diderita dapat jauh lebih tinggi daripada penghematan biaya yang diperoleh saat replanting.

Tidak hanya itu, underplanting yang dilakukan pada lahan dengan tingkat serangan yang tinggi berarti melestarikan ganoderma di lahan perkebunan. Ganoderma semestinya jangan dilestarikan tetapi diputus siklus hidupnya.

Untuk mengetahui tingkat serangan ganoderma sudah dalam tingkat yang tinggi adalah bila lebih dari 10% tanaman pada generasi sebelumnya tumbang karena ganoderma. Penyakit ini tidak ada obatnya, karena cendawannya di dalam tanah. Untuk memutus siklus ganoderma, tanahnya dibongkar, diberakan (minimal dua tahun) dan diikuti dengan pengolahan tanah yang intensif, atau ditanami tanaman lain yang bukan inang ganoderma.

Saran kami, jangan melakukan teknik underplanting bila diketahui lahannya sudah terkontaminasi dengan ganoderma, utamanya dengan kontaminasi tinggi.

Ditulis oleh: Darmono Taniwiyono, PhD, Ahli Ganoderma pada Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, LRPI).

Simak juga Mematikan Tanaman Kelapa Sawit Tanpa Menebang, Guna Peremajaan Sawit

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here