Kementan Luncurkan Varietas Ayam Pedaging (SenSi-1), Ini 9 Keunggulannya

Kementan Luncurkan Varietas Ayam Pedaging (SenSi-1), Ini 9 Keunggulannya

1
Bagikan

BOGOR – Balai Penelitian Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan varietas Ayam Lokal Pedaging Unggul (SenSi-1) atau Sentul Terseleksi Agrinak. Varietas ini sebagai lanjutan dari ayam kampung unggul balitbangtan (KUB).

Varietas ini menghasilkan ayam lokal pedaging yang memiliki keunggulan bobot tubuh dibandingkan ayam lokal non unggul. Bobot tubuh ayam tersebut bekisar 800-1.000 gr dengan umur 70 hari dan relatif lebih tahan terhadap penyakit.

Plt Kepala Pusat Penelitian Peternakan Kementan, Fadjry Djufry, mengatakan teknologi ini dihasilkan guna merespons kebutuhan dan permintaan bibit ayam lokal unggul.

“Tersedianya salah satu galur unggul ayam lokal di dalam negeri untuk menghasilkan ayam pedaging yang dapat meningkatkan penyediaan bibit day old chick (DOC). Sekaligus meningkatkan efisiensi budidayanya,” kata Djufry di Ciawi, Bogor, Selasa (21/2/2017).

Kepala Balai Penelitian Peternakan Kementan Suharsono menambahkan, ayam SenSi-1 Agrinak merupakan karya pertama peneliti. Galur baru ini merupakan salah satu galur murni (pure line) ayam lokal pedaging unggul, yang dapat dimanfaatkan sebagai ayam niaga (final stock) dan atau sebagai ayam tetua (parent stock).

“Galur ini telah ditetapkan sebagai galur ayam lokal pedaging asli Indonesia berdasarkan SK Mentan Nomor 39/Kpts/PK.020/1/2017, tanggal 20 Januari 2017, tentang Pelepasan Galur Ayam SenSi-1 Agrinak ” tambahnya.

Suharsono menjelaskan, proses seleksi individu ayam jantan dilakukan pada umur 10 minggu untuk bobot tubuh permintaan pasar (berkisar 0,8 – 1 kg/ekor), berbulu abu atau pucak (putih bercak hitam). Sebagai warna dominan dan berjengger kacang (pea) telah dilakukan di Balitnak selama 5 tahun. Kriteria seleksi ini dimaksudkan untuk mendapatkan keseragaman tampilan dan perbaikan bobot hidup.

“Kriteria seleksi yang tidak dilakukan pada ayam betina, kecuali warna bulu bertujuan agar sifat-sifat ketahanan tubuh ayam SenSi-1 Agrinak tidak banyak berubah dari ketahanan tubuh rumpunnya,” jelasnya.

Menurutnya, selain kriteria seleksi yang diberlakukan pada rumpun ini, lingkungan optimum, terutama kualitas pakan ditetapkan pada kualitas 17 persen protein kasar dengan 2.800 kkal ME/kg selama masa pertumbuhan sampai dengan umur 20 minggu.

“Pertimbangan ini diambil untuk mengantisipasi kondisi pemeliharaan di peternak. Pemberian pakan dengan kualitas lebih baik diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan nilai ekonomis lebih baik,” pinta Suharsono.

Ayam Lokal Pedaging Unggul (SenSi-1) - Kabartani

Suharsono mengungkapkan, pada tahun 2016 telah dilakukan kerjasama pra lisensi untuk produksi bibit ayam SenSi dalam rangka penyebaran bibit dengan 6 perusahaan yaitu PT Sumber Unggas di Cogreg Bogor Jawa Barat, Warso Unggul Farm Tangkil Bogor Jawa Barat, Dedi Farm Gunung Endut Sukabumi Jawa Barat, Badan Usaha Milik Tiyuh. Tulang Bawang Barat Lampung, DNR Farm Ciampea Bogor Jawa Barat dan PT ISFIN di Sleman Yogyakarta.

Simak juga 

“Hasilnya, sampai saat ini telah dilakukan perbanyakan bibit 100 ribu DOC yang akan dikonsentrasikan di wilayah Jabodetabek. Diperkirakan populasi yang semula 6.000 DOC jantan-betina (unsexed) ditambah dengan para peternak non-MoU 2.000 DOC unsexed, diperkirakan telah bertambah dengan keturunannya kurang lebih 80.000 ekor sebagai tetua pengganti,” ujar Suharsono.

Perlu diketahui, Ayam SenSi-1 Agrinak memiliki banyak keunggulan, diantaranya yaitu.

  • Bobot hidup rata-rata pada umur 10 minggu untuk jantan 1.066 lebih kurang 62,5 g/ekor dan untuk betina 745 lebih kurang 114 g/ekor.
  • Konsumsi pakan umur 0-10 minggu sebanyak 2,7-3,2 kg/ekor.
  • Umur pertama bertelur 174 lebih kurang 17,69 hari.
  • Bobot umur pertama bertelur 1.909 lebih kurang 219 gr/ekor.
  • Produksi telur puncak 61,98 lebih kurang 8,66 persen.
  • Puncak produksi telur pada umur ayam 34,5 ± 4,05 minggu.
  • Bobot telur pertama seberat 32,83 ± 4,76 g, akan bertambah terus sampai 44,82 ± 3,63 g/butir pada saat puncak produksi.
  • Fertilitas sebesar 85,47 atau lebih kurang 6,58 persen.
  • Manfaat yang tidak kalah menariknya yaitu rata-rata produksi telur selama 40 minggu masa bertelur sebesar 39,58 lebih kurang 5,30 persen henday production. (nwy/hns)
Loading...

1 KOMENTAR

BERI BALASAN