Sarana & Prasarana Alat & Mesin Pertanian MESIN PEMISAH BIJI CABAI Mendukung Perbenihan Cabai Berkelanjutan

MESIN PEMISAH BIJI CABAI Mendukung Perbenihan Cabai Berkelanjutan

0
Bagikan

Kabartani.com – Cabai merupakan salah satu komoditi sayuran yang penting dan mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Hal ini dikarenakan peranannya yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan domestik baik sebagai bumbu masak, bahan industri pangan dan industri obat obatan serta bahan komoditi ekspor.

Mengingat begitu pentingnya manfaat cabai bagi masyarakat Indonesia, maka harga cabai seringkali fluktuatif bergantung pada jumlah produksi yang dihasilkan. Pada saat produksi menurun harga cabai melambung tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu laju inflasi.

Oleh karena itu, cabai menjadi salah satu komoditas unggulan yang diprioritaskan untuk dikembangkan. Salah satu faktor yang sangat menentukan hasil produksi adalah benih unggul yang bermutu. Benih cabai yang bermutu umumnya didatangkan dari luar negeri atau impor. Masih jarang benih cabai bermutu yang diproduksi oleh penangkar benih atau produsen benih dalam negeri.

Proses pengolahan benih cabai dimulai dari pemisahan biji cabai dari kulitnya sampai ke pengeringan biji cabai. Proses pemisahan biji cabai dari kulitnya yang dilakukan oleh petani biasanya masih dilakukan dengan membelah buah cabai satu per satu dengan menggunakan pisau dan memisahkan bijinya secara manual.

Cara ini membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang cukup banyak. Dalam satu hari satu orang hanya mampu memisahkan biji cabai sebanyak 20 kg cabai segar dengan hasil biji cabai kering sebanyak 15-20 gram untuk setiap 1 kg cabai segar. Untuk menghasilkan 1 kg benih cabai kering dibutuhkan cabai segar sebanyak 50-67 kg dan tenaga kerja sekitar 3-4 orang.

Mesin Pemisah Biji Cabai

Dalam rangka mendukung sistem perbenihan hortikultura khususnya benih cabai, maka BBP Mektan mengembangkan mesin pengolahan benih cabai diantaranya adalah mesin pemisah biji cabai. Mesin pemisah biji cabai berfungsi untuk memisahkan biji cabai dari daging buah yang akan digunakan sebagai benih.

Prototipe mesin pemisah biji cabai terdiri atas beberapa komponen utama yaitu motor penggerak, silinder pemisah biji, hopper pengumpan, kerangka utama, sistem transmisi, dan ayakan.

Penggerak utama mesin pemisah biji cabai adalah motor listrik 1 Hp, 1 phase, 1.400 rpm. Mesin pemisah biji cabai dari daging kulitnya yang dikembangkan menggunakan sistem pembubur buah (pulper) yang telah direkayasa oleh Astu Unadi, et. al. (2001).

Mesin pemisah biji cabai dari daging kulitnya menggunakan mekanisme memotong dan mencacah buah cabai oleh pisau pencacah. Hasilnya berupa cabai utuh segar yang dilewatkan ke dalam silinder pemisah biji. Silinder tersebut dilengkapi dengan saringan pengeluaran biji dan daging setelah terpisah dari biji cabai.

Hasil uji fungsional prototipe mesin dapat berfungsi dengan baik dan tidak mengalami kerusakan pada komponennya. Uji unjuk kerja mesin pemisah cabai dilakukan terhadap 2 jenis varietas cabai yaitu cabai keriting dan cabai besar.

Mesin ini dioperasikan pada putaran motor penggerak sekitar 1.470 rpm (dengan beban), putaran silinder pemisah biji sekitar 600 rpm dan putaran ayakan eksentrik saringan yaitu 305 rpm dengan tingkat kebisingan 84,7 db (tanpa beban) dan 86,67 db (dengan beban).

Kapasitas mesin pemisah cabai adalah 40,7 kg/jam (kapasitas input) dan 9,5 kg/jam (kapasitas output) untuk cabai besar dengan nisbah biji 9,1%. Sedangkan untuk cabai keriting 56,4 kg/jam (kapasitas input) dan 11,9 kg/jam (kapasitas output) untuk cabai keriting dengan nisbah 12,9%.

Efisiensi pemisahan biji masing–masing adalah 99,7% (cabai besar) dan 99,7% (cabai keriting). Tingkat kebersihan hasil pemisahan biji adalah 54,4% untuk cabai besar dan 56,7% untuk cabai keriting.

Melalui pengembangan teknologi mekanisasi untuk budi daya cabai diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja, mutu benih cabai, serta mendorong berkembangnya industri perbenihan cabai di dalam negeri.

Simak juga:

Sumber: Suparlan dan Reny J. Gultom (BBP Mektan, 2017)

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here