Teknologi Tani Panduan Budidaya Padi Rakit Apung dilahan Rawa

Panduan Budidaya Padi Rakit Apung dilahan Rawa

0
Bagikan

Kabartani.com – Lahan sawah berupa rawa hanya bisa dimanfaatkan untuk budidaya padi ketika menjelang kemarau, sehingga potensi lahan sawah tersebut tidak bisa dimaksimalkan. Oleh karena itu perlu pengembangan teknologi budidaya padi untuk memanfaatkan genangan air tersebut.

Luas lahan sawah di Desa Ciganjeng, Kec. Padaherang, Kab. Ciamis kurang lebih 3.669 ha, dari jumlah tersebut 600 ha adalah lahan rawa atau lahan genangan air, dan hanya bisa ditanami sekali dalam setahun, yaitu pada saat menjelang musim kemarau. Karena kondisi alam inilah maka kelompok tani Taruna Tani Mekar Bayu berinisiatif membuat solusi dari masalah ini dengan mengembangkan teknologi budidaya padi apung.

Tujuan dari pengembangan teknologi budidaya padi apung ini diantaranya yaitu 1) untuk mengoptimalkan potensi lahan yang ada, 2) memberdayakan petani setempat, 3) meningkatkan kesejahteraan petani setempat, dan 4) menghasilkan padi organik dengan budidaya padi teknik rakit apung.

Berikut ini tahapan-tahapan dalam penerapan teknologi budidaya Padi Apung :

Persiapan Rakit

  • Rakit terbuat dari bambu, dengan
  • Panjang rakit 5 m dan lebar 2 m (bisa ditambahkan pelampung),
  • Untuk kebutuhan 1.400 meter persegi (100 tumbak), diperlukan sekitar 98 rakit,
  • Jarak antar rakit 60 cm,
  • Tiap rakit diikat tiang, supaya tidak pindah tempat dan dikelilingi oleh bambu pemecah ombak.

Persiapan Media Tanam pada Rakit

  • Sabut kelapa atau jerami padi sebanyak 2 karung per rakit, lalu dihamparkan merata sebagai alas pertanaman padi.
  • Kemudian, hamparkan tanah sawah setebal 5 cm (jika terlalu tebal rakit akan tenggelam).
  • Lalu hamparan tanah tersebut diberi pupuk organik cair (POC) buatan petani dengan konsentrasi 350 cc/liter.

Penanaman Benih Padi

Sistem budidaya yang digunakan dalam padi apung adalah metode SRI, sebagai berikut:

  • Umur benih 7 hari setelah sebar,
  • Persemaian pada nampan atau pipiti/besek,
  • Tanam tunggal dangkal dan akar membentuk huruf L,
  • Gunakan jarak tanam 30 cm,

Pemeliharaan

  • Penyiangan dilakukan satu kali pada umur 10 HST (hari setelah tanam) dengan menggunakan tangan,
  • Pemupukan dilakukan 10 kali dengan menggunakan POC (Pupuk Organik Cair) buatan petani dengan konsentrasi 350 cc/liter,
  • Hanya menggunakan POC (tanpa kompos, karena akan menambah beban rakit),
  • Tanpa pupuk kimia, sehingga padi yang dihasilkan bersifat organik,

Pengendalian Hama

Hama yang biasa menyerang pertanaman padi teknik rakit apung ini sama seperti pada tanaman padi umumnya, diantaranya keong mas dan tikus. Keong mas yang mengincar tanaman padi biasanya akan menempel pada rakit, sehingga akan menambah beban rakit, sehingga menyebabkan tanaman padi tergenang. Cara pengendaliannya dengan melakukan pengawasan secara rutin dan membuang keong yang berada di areal pertanaman.

Simak juga pemanfaatan keong mas berikut ini:

Sedangkan hama tikus dapat dikendalikan dengan aplikasi POC pada saat pemupukan, dan hasilnya cukup memuaskan, sehingga dapat mengusir tikus dengan baunya yang tidak disenangi tikus.

Panen

  • Pengangkutan hasil panen dilakukan dengan menggunakan perahu,
  • Umur padi sama dengan padi dilahan sawah,
  • Hasil yang didapatkan bisa mencapai 6.4 ton/ha GKP,
  • Varietas IR 64,

Kesimpulan

  • Budidaya padi teknik rakit apung bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah yang sering tergenang atau rawa-rawa.
  • Biaya pembuayan padi rakit apung cukup mahal, tapi jika dipadukan dengan budidaya ikan maka biaya itu menjadi sangat murah, bahkan dapat menambah pendapatan petani dari satu lahan saja.
  • Kekuatan rakit jika tergenang diperkirakan dapat bertahan selama 5 tahun.
  • Perlu adanya modifikasi atau masukan teknologi untuk penyempurnaan teknologi padi apung khususnya dalam hal biaya pembuatan rakit.

Sumber: Ir Arief Setiabudy dan Endi Juhendi (Dinas Pertanian Jabar, 2013)

REVIEW OVERVIEW
Padi Apung
Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here