Hortikultura Buah-Buahan Panduan Perbanyakan Benih Jambu Biji (Berbiji Sedikit)

Panduan Perbanyakan Benih Jambu Biji (Berbiji Sedikit)

0
Bagikan

Kabartani.comJambu biji (Psidium guajava L.) adalah salah satu tanaman buah jenis perdu, dalam bahasa inggris disebut Lambo guava. Tanaman ini berasal dari Brazil, menyebar ke Thailand kemudian ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia. Jambu tersebut kemudian dilakukan persilangan melalui stek atau okulasi dengan jenis yang lain, sehingga akhirnya mendapatkan hasil yang lebih besar dengan keadaan biji yang lebih sedikit, bahkan tidak berbiji.

Beberapa varietas jambu biji digemari dan dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis yang relatif lebih tinggi, diantaranya yakni jambu sukun, jambu bangkok, jambu merah, jambu pasar minggu, jambu sari, jambu apel, jambu palembang, dan jambu merah getas.

Jambu biji biasanya dimanfaatkan sebagai buah segar maupun olahan, karena mempunyai kandungan vitamin A dan C yang tinggi, dengan kadar gula 8%. Jambu biji mempunyai rasa dan aroma yang khas disebabkan oleh senyawa eugenol. Tanaman jambu biji juga bisa berfungsi sebagai pohon pembatas di pekarangan dan sebagai tanaman hias. Daun dan akarnya juga dapat digunakan sebagai obat tradisional dan kayunya dapat dibuat berbagai alat dapur karena memiliki kayu yang kuat dan keras.

Syarat Tumbuh

A. Iklim

Dalam budidaya tanaman jambu biji, angin berperan dalam menyerbukan, namun angin yang kencang dapat menyebabkan kerontokan pada bunga. Tanaman jambu biji merupakan tanaman daerah tropis dan dapat tumbuh di daerah sub-tropis dengan intensitas curah hujan yang diperlukan berkisar antara 1000-2000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun.

Tanaman jambu biji dapat tumbuh, berkembang serta berbuah optimal pada suhu sekitar 23-28°C di siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kerdil). Musim berbunga idealnya pada waktu musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli-September sedang musim buahnya terjadi bulan November-Februari bersamaan musim penghujan.

Kelembaban udara sekeliling cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Apabila udara mempunyai kelembaban yang rendah, berarti udara kering karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu biji.

B. Media Tanam

Tanaman jambu biji sebenarnya dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Jambu biji dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur serta banyak mengandung unsur nitrogen, bahan organik atau pada tanah yang keadaan liat dan sedikit pasir. Derajat kasaman tanah (pH) tidak terlalu jauh berbeda dengan tanaman lainnya, yaitu antara 4,5 – 8,2 dan bila kurang dari pH tersebut maka perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu.

C. Ketinggian Tempat

Jambu biji dapat tumbuh subur pada daerah tropis dengan ketinggian antara 5-1200 m dpl.

Perbanyakan Benih Sumber Jambu Biji

Pada dasarnya perbanyakan benih jambu biji dapat dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji dan secara vegetatif dengan cara cangkok, okulasi, grafting, susuan dan cangkok.

A. Perbanyakan Secara Generatif (Biji)

Perbanyakan dengan biji hanya dianjurkan untuk bahan batang bawah untuk penyambungan (okulasi dan grafting) karena benih asal biji sering terjadi pemecahan sifat (segregasi) dari induknya dan umur berbuahnya lambat.

B. Perbanyakan Secara Vegetatif

1. Okulasi

  • Batang bawah berasal dari semaian biji yang telah berumur 15-18 bulan, sistem perakarannya kuat dan pertumbuhannya subur (sehat).
  • Mata tunas (entres) diambil dari pohon induk yang produktif berbuah dan tergolong jenis atau varietas unggul yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Mata entres ini berasal dari cabang yang tumbuhnya tegak sampai agak condong, berumur kurang lebih 1 tahun dan kulitnya berwarna kecoklatan.
  • Bersihkan batang bawah setinggi 10-20 cm dari permukaan tanah dengan alat bantu kail lap.
  • Iris kulit batang bawah pada ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah dengan ukuran irisan arah mendatar selebar 0,5 – 1,0 cm dan arah bawah sepanjang 2-3 cm.
  • Tarik kulit batang hasil irisan tadi ke bagian bawah secara perlahan, kemudian potong 2/3 bagian untuk dibuang.
  • Pilih cabang yang mempunyai mata, kemudian sayat dengan mengikutsertakan sedikit bagian kayunya.
  • Kelupaskan bagian kayu pada mata entres tadi secara hati-hati.
  • Tempelkan mata entres pada celah sayatan batang bawah hingga benar-benar pas.
  • Ikat bidang sambungan (okulasi) dengan tali rafia atau lembar plastik yang dimulai dari atas ke bawah dengan tidak boleh menutup mata entres.
  • Biarlah hasil okulasi selama 10-15 hari, kemudian periksa pada bagian mata entresnya. Bila berwarna hijau berarti okulasi tersebut berhasil. Sebaliknya bila mata entres berwarna coklat atau mengkerut kering, berarti okulasi tersebut gagal.

2. Grafting

  • Potong ujung batang bawah pada ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah, kemudian buang sebagian daun-daunnya.
  • Sayat batang bawah membentuk huruf V sepanjang 3-4 cm.
  • Potong pangkal cabang atas berbuku 2-3 buah yang akan dijadikan batang atas kemudian sayat pada kedua sisinya hingga membentuk “baji” sepanjang 3-4 cm.
  • Masukkan batang atas tadi ke celah batang bawah hingga benar-benar pas (rapat).
  • Ikat bidang sambungan dengan tali rafia, kemudian tutup hasil sambungan dengan kantong plastik bening selama 10-15 hari.
  • Setelah umur 1-1,5 bulan sejak penyambungan, pengikat dibuka. Benih hasil sambungan pucuk dipelihara selama 2-3 bulan atau tergantung ukuran benih yang diharapkan.

3. Susuan

  • Sayat batang bawah maupun batang atas dalam ukuran yang sama hingga terlihat bagian kayunya.
  • Padukan kedua bagian bekas sayatan tadi hingga benar-benar pas.
  • Setelah sambungan susuan tampak menyatu, potong bagian pucuk batang bawah tepat diatas bidang sambungan. Demikian juga pangkal batang atas (pohon induk) dipotong tepat dibawah bidang sambungan.
  • Benih hasil susuan dipelihara selama beberapa waktu hingga tampak tumbuh segar dan kuat. Benih susuan yang sudah mencapai tinggi 75-100 cm dapat dipindahkan kedalam pot.

4. Cangkok

  • Pilih cabang yang tidak terlalu tua, tidak cacat, lurus dan pertumbuhannya baik dari pohon induk tunggal.
  • Sayat pada cabang terpilih secara melingkat sepanjang 3-5 cm, kerik bagian kambiumnya hingga tampaj kering.
  • Ikat pembungkus media cangkok berupa sabut kelapa ataupun lembar plastik pada bagian bawang bidang sayatan.
  • Letakkan media cangkok berupa tanah subur atau campuran tanah dengan pupuk kandang atau humus dengan perbandingan 1:1 pada bidang sayatan.
  • Balut bidang sayatan dengan pembalut sabut kelapa atau lembar plastik hingga benar-benar pas, kemudian ikat pembalut pada bigian atas dan tengah.
  • Biarkan bibit cangkok dari pohon induknya tepat pada bagian bawah bidang cangkokan.
  • Buang (pangkas) sebagian cabang, ranting dan daun yang tidak berguna.

Legalisasi Mutu

Agar petani pengguna benih percaya akan mutu benih yang dipasarkan, maka perlu adanya legalisasi tentang mutu benih dengan cara memberikan label setiap benih yang akan disalurkan.

Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan pelabelan benih:

  1. Dilakukan pemeriksaan lapangan yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran pohon induk yang diambil sebagai sumber benihnya dan teknis pelaksaan perbanyakan benih.
  2. Pemasangan label dilakukan setelah calon benih telah lulus pemeriksaan lapangan.
  3. Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh petugas lapang BPSBTPH demikian juga dalam pelaksanaan pelabelan.

Waktu pemeriksaan lapangan sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan I, pemeriksaan pohon induk dilakukan sebelum pengambilan mata entres/tunas pucuk dsb.
  2. Pemeriksaan II, dilakukan saat pengambilan mata entres, tunas pucuk, dsb. Sebagai bahan sambung untuk perbanyakan benih.
  3. Pemeriksaan III, pada saat benih sudah disambung dan siap salur.

Simak juga:

Sumber Benih

untuk mendapatkan benih sumber jambu biji dalam jumlah banyak dapat diperoleh melalui: CV. Wijaya Tani (H. Mubin Usman) yang beralamat di Margonda Raya, Gg. Sawo, Pondok Cina UI, Depok, Jawa Barat.

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here