Hortikultura Sayuran Panduan Sukses Budidaya JAMUR KUPING untuk Pemula

Panduan Sukses Budidaya JAMUR KUPING untuk Pemula

0
Bagikan

Kabartani.comJamur kuping (Auricularia auricula Judae) adalah jamur konsumsi dari jenis jamur yang memiliki nilai bisnis tinggi serta luas penggunaannya. Jamur kuping sudah dikenal dekat sebagai bahan makanan yang tambahan.

Secara umum dipangsa dunia, jamur kuping menduduki tempat terbawah, tetapi di pangsa pasar asia terutama di kawasan Cina, Hongkong, Singapura, Malaysia, pangsa pasar jamur kuping sangatlah tinggi terutama dalam bentuk kering.

Jamur kuping mempunyai peluang besar dipasaran, maka dari itu budidaya jamur kuping meliputi beberapa proses yang harus dilalui untuk meningkatkan produksifitas jamur kuping.

Setiap proses terdiri dari beberapa kegiatan, yang menuntut kecermatan dan ketelitian, dan diantara proses yang satu dengan lainnya merupakan satu kesatuan yang harus dilalui dan atau dilaksanakan agar kegiatan budidaya dapat dilaksanakan serta memperoleh hasil yang maksimal.

Adapun proses-proses yang ada dalam budidaya jamur kuping dengan media serbuk kayu dapat dibagi menjadi 4 tahap pekerjaan sebagai berikut:

A. PERSIAPAN MEDIA TANAM

Proses pemilihan media tanam harus dilakukan dengan baik karena akan mempengaruhi kualitas jamur kuping yang akan dihasilkan nantinya. Setelah bahan-bahan yang diperlukan telah tersedia maka dilakukan kegiatan-kegiatan lainnya seperti pengayakan, pencampuran, pewadahan, sterilisasi, pendinginan.

1. Pemilihan Serbuk Kayu

Serbuk kayu merupakan bahan utama yang dipakai dalam memproduksi jamur kuping. Sebagian besar jenis serbuk kayu dapat digunakan untuk media tanam jamur kuping, namun ada beberapa jenis serbuk kayu yang kurang baik digunakan sebagai media tanam, diantaranya serbuk kayu jati, pinus dan jenis serbuk kayu lain yang banyak mengandung bahan pengawet alami (zat ekstraktif), yang dapat menghambat pertumbuhan jamur.

Serbuk kayu yang baik untuk digunakan sebagai media baglog yaitu dari kayu sengon, pemilihan serbuk kayu ini didasari oleh:

  • Kayu sengon memiliki sedikit bahan pengawet alami,
  • Kayu sengon tidak terlalu banyak getahnya,
  • Kayu sengon mudah lapuk,
  • Kayu ini mudah menyerap air, dan juga serbuk kayu ini mudah didapat.

Budidaya dengan menggunakan serbuk kayu lebih menguntungkan karena kedalam media tanaman tersebut dapat ditambahkan bahan sumber nutrisi lainnya sehingga dapat mempercepat pertumbuhan dengan hasil yang lebih banyak, dan juga proses produksinya tidak terlalu lama.

2. Pengayakan

Serbuk kayu yang sudah diperoleh, kemudian dilakukan penyaringan atau diayak terlebih dahulu untuk menghasilkan serbuk kayu yang seragam ukurannya dan benar-benar bersih bebas dari kotoran yang tidak diinginkan. Pengayaan ini dilakukan dengan ayakan yang ukuran lubangnya adalah 0,5 x 0,5 cm.

Pengayakan sangat penting dilakukan agar pencampuran serbuk kayu dengan bahan-bahan lainnya dapat merata dan pertumbuhan misellia jamur setelah inokulasi juga akan lebih merata. Proses pengayaan ini juga bertujuan untuk menghilangkan serat tanaman yang masih besar, hal ini dikarenakan serpihan batang yang besar dapat merusakkan plastik baglog.

3. Pencampuran

Setelah proses pengayakan, selanjutnya serbuk kayu dicampur dengan bahan-bahan lain yang telah disiapkan, sebagai tambahan nutrisi bagi tanaman jamur. Komposisi bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur bervariasi, tergantung dari pengalaman para petani masing-masing dan hasilnya diyakini mempunyai kelebihan, baik dari kecepatan tumbuh maupun produktivitasnya.

Berikut ini formulasi bahan untuk pembuatan media (log jamur) kuping yang bisa anda gunakan. Untuk setiap 100 kg serbuk kayu ditambahkan dengan:

  • 15 kg bekatul
  • 1-5 kg dolomit (menyesuaikan pH)
  • 1% gibs (untuk menambah unsur kalsium dan mengeraskan
    media)
  • 1% Urea
  • 1% TSP
  • 20 ml EM4
  • 10-20 liter air (menyesuaikan kandungan air dalam media)

Setelah penambahan formulasi bahan-bahan yang diperlukan cukup maka media tanam (serbuk kayu dan formula) diaduk sampai benar-benar merata sempurna. Penambahan air diberikan sedikit demi sedikit dengan ember yang telah terisi air, agar tidak terjadi penggumpalan air maka dilakukan penyiraman dengan tangan dan dikontrol agar tingkat kebasahan media sesuai dengan yang diharapkan.

Demikian juga pada bahan dan formula semua harus merata dan sehomogen mungkin, karena jika kurang homogen akan berakibat pada pertumbuhan miselium yang kurang baik (kurang menyebar).

4. Proses Pengomposan (Fermentasi)

Setelah proses pencampuran bahan dan formula selesai, kemudian bahan difermentasi dan diberikan tambahan bakteri decomposer. Media ditumpuk sampai ketinggian ±1 meter, dan ditutup dengan plastik/terpal. Fungsi bakteri decomposer disini adalah guna mengkondisikan media tanam agar lebih cepat terurai (melapukkan) dan mudah diserap oleh tanaman.

Selain untuk menguraikan nutrisi dalam media agar lebih siap diserap oleh tanaman (jamur), panas yang dihasilkan dari proses fermentasi juga dapat mengurangi senyawa-senyawa atau organisme penyebab kontaminasi.

Proses fermentasi media dilakukan selama kurang lebih 3-7 hari, sesuai dengan jenis kayu. Jenis kayu yang keras seperti kayu jati memerlukan waktu yang lebih lama. Proses fermentasi diakhiri apabila kondisi bahan tanam (media) sudah memungkinkan, dengan indikator warnanya coklat gelap dengan bau yang khas kompos.

5. Pewadahan

Serbuk kayu dan bahan-bahan lain yang telah tercampur dengan merata selanjutnya dimasukkan kedalam wadah kantong plastik. Kantong plastik yang digunakan adalah jenis plastik yang tahan panas, yaitu jenis polipropilena (di pasar biasa disebut istilah plastik PP). Plastik yang digunakan dapat menggunakan berbagai ukuran dengan ketebalan minimum 0,003 mm sehingga pada saat dilakukan pemadatan tidak mudah pecah.

Sedangkan ukuran plastik atau baglog yang digunakan yaitu 20 x 30 cm, dengan bobot media antara 0,9 – 1,0 kg. Pengisian harus diselesaikan secepat mungkin guna meminimalkan kontaminasi. Plastik pembungkus diisi dengan bahan tanam sebanyak ¾ bagian.

Kemudian dipadatkan dengan memukulkannya ke tanah dengan bagian ujungnya kita pegang ataupun dipres dengan mesin pengepres. Kemudian plastiknya dilipat dan diikat dengan gelang karet, agar membentuk leher botol diberikan cincin ditutup dengan kapas hingga rapat.

6. Sterilisasi

Segera setelah pengisian selesai, media tanam telah berbentuk seperti botol-botol yang disebut dengan istilah baglog kemudian disterilkan dengan alat sterilisasi. Sterilisasi dilakukan dengan pengukusan yang tujuannya adalah untuk membebaskan media tanam dari bibit hama penyakit, menghilangkan kemasaman atau racun berbahaya pada media tanam, dan menyempurnakan proses pengomposan.

Sterilisasi yang dilakukan dengan menggunakan drum bekas yang sudah dimodifikasi dan diberi sarang pada bagian dalam, yang berfungsi untuk memisahkan air dan media tanam atau bag log. Sterilisasi berlangsung pada suhu 80 – 90 ºC selama 8 jam. Proses ini sudah dapat mematikan mikroorganisme, hama, ataupun cendawan pesaing.

Namun dengan menggunakan drum proses sterilisasi hanya mengandalkan uap panas saja sehingga waktu yang diperlukan untuk menghilangkan organisme pengganggu relatif lebih lama. Tujuan dari proses sterilisasi ini adalah untuk memininalkan resiko kontaminasi media jamur ini, dan juga untuk mematikan mikro organisme yang berada pada baglog itu.

7. Pendinginan

Setelah sterilisasi, baglog dibiarkan dingin secara perlahan-lahan. Pendinginan media yang telah disterilkan dilakukan selama 1-3 hari sampai mencapai suhu alam sebelum dilakukan inokulasi. Pendinginan dapat dilakukan di dalam suatu ruang yang mempunyai sirkulasi udara yang cukup agar panas yang ada pada media tanam dapat berangsur-angsur menjadi dingin.

Apabila jumlah baglog yang didinginkan cukup banyak maka sebaiknya ditempatkan di ruangan yang dilegkapi dengan kipas angin untuk membantu agar sirkulasi udara menjadi lebih sempurna. Pendinginan media tanam mutlak dilakukan karena pada prinsipnya pendinginan dilakukan agar pada saat inokulasi atau pembibitan, bibit jamur tidak akan mati.

1
2
REVIEW OVERVIEW
Budidaya Jamur Kuping
Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here