Peternakan Pakan Ternak Pemanfaatan AMPAS TAHU sebagai Pakan Ternak Kelinci

Pemanfaatan AMPAS TAHU sebagai Pakan Ternak Kelinci

0
Bagikan

Kabartani.com – Makanan kelinci yang baik adalah yang terdiri atas sayuran hijau, biji-bijian, dan makanan penguat (konsentrat). Makanan hijauan yang diberikan antara lain semacam rumput lapangan, limbah sayuran seperti kangkung, selada air, daun bunga kol, daun wortel, dan wortel.

Sayuran hijau yang akan diberikan pada kelinci sebaiknya telah dilayukan bukan dalam keadaan segar. Proses pelayuan sayuran bertujuan untuk mempertinggi kadar serat kasar, dan untuk menghilangkan getah atau racun yang dapat menimbulkan kejang-kejang atau kembung (bloat) dan mencret (enteritis). Biji-bijian bisa berupa jagung yang digiling halus untuk campuran konsentrat, polard (kulit gandum), dedak halus, dan ampas tahu.

Sebagai hewan monogastrik, di dalam sekum kelinci terdapat bakteri pencerna serat kasar dan mensintesa vitamin B, terutama thiamin. Fungsi alat pencernaan kelinci hampir sama dengan hewan monogastrik lainnya. Keunikannya terletak pada kemampuannya untuk memproduksi feses malam (night feces) atau feses lunak (soft feces).

Feses lunak mengandung protein yang tinggi dan vitamin larut air. Feses lunak ini mengalami pencernaan yang sama dengan pakan normal, sehingga sebagian pakan yang dikonsumsi dapat mengalami proses selama satu, dua, tiga atau empat kali bergantung pada tipe makanan, termasuk pakan yang berbahan baku ampas tahu.

Potensi Ampas Tahu sebagai Pakan Ternak

Sampai saat ini, industri tahu yang berada di Jakarta dan daerah penyangganya yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi berjumlah ±315 unit usaha, dengan total produksi tahu mencapai 108.675 t/tahun.

Namun dari pengolahan industri tahu tersebut menyisakan limbah yang berupa limbah padat dan limbah cair. Jika tidak ditangani menyebabkan polusi air, sumber penyakit, bau tidak sedap, dan menurunkan estetika lingkungan.

Jumlah limbah cair yang dihasilkan adalah 1.630.125 m3/tahun, sedangkan limbah padat mencapai 43.470 t/tahun. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan.

Sedangkan limbah cair dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan, dan pencetakan tahu/Pada setiap proses pembuatan tahu akan dihasilkan ampas tahu antara 25-35% dari produk tahu yang dihasilkan.

Ampas tahu dapat dijadikan sebagai sumber protein pada pembuatan pakan ternak dan ikan, karena mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar antara 23-29% dan kandungan zat nutrisi lain seperti lemak 4,93% dan serat kasar 22,65%.

Nilai gizi ampas tahu meningkat setelah difermentasi dengan mikroba pada kondisi pH awal 6 dan lama waktu fermentasi 12 jam. Upaya tersebut untuk memperbaiki kualitas gizi, mengurangi atau menghilangkan pengaruh negatif dari bahan pakan tertentu, meningkatkan nilai kecernaan, dan menambah rasa dan aroma.

Selain itu, juga meningkatkan kandungan vitamin dan mineral, serta menghasilkan enzim hidrolitik pada pakan, sehingga lebih mudah untuk diserap oleh ternak.

Hasil penelitian tentang pemanfaatan ampas tahu diharapkan dapat mendukung ketersediaan pakan yang murah dan berkesinambungan bagi peternakan di perkotaan.

Bahan pakan ampas tahu diperoleh dari industri pengrajin tahu tempe di Jakarta Timur yang bergabung dalam usaha bersama Primer Koperasi Pengrajin Tahu Tempe Indonesia (PRIMKOPTI).

Bahan lainnya yang digunakan untuk pembuatan pakan adalah:

  • Dedak padi,
  • Jagung giling,
  • Bungkil kedelai,
  • Onggok,
  • Mineral premix, dan
  • Molase

Porsi ampas tahu sebesar 35% dari total campuran bahan pakan (Tabel 1).

Proses Pembuatan Pakan Ternak Berbasis Ampas Tahu

Keseluruhan bahan pakan dicampur merata hingga menjadi adonan yang homogen. Kemudian adonan dicampur dengan air bersih sambil diaduk hingga lembap yang ditandai dengan jika bahan dikepal maka tangan terasa lembap tapi tidak basah.

Selanjutnya adonan yang lembap dimasukkan ke dalam alat pembuat pelet dan segera diolah sehingga keluar pelet yang panjangnya sekitar 1 cm dengan diameter sekitar 4 mm.

Pelet yang masih lembap dikeringkan dengan bantuan sinar matahari selama 1-2 hari. Pelet yang sudah kering dapat disimpan lama sehingga aman dan tidak berjamur.

Hasil pengukuran kemampuan konsumsi pakan pada kelinci umur sekitar 2-3 bulan menunjukkan bahwa kelinci mampu mengonsumsi pakan pelet cukup baik, dalam arti bahwa pakan tersebut disukai (palatabilitas tinggi).

Adapun pertumbuhan kelinci dapat diketahui dengan pengamatan performa serta diamati dengan mengukur pertambahan bobot badan (PBB). Sedangkan nilai konversi pakan yang dimaksud adalah perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dicapai dalam kurun waktu yang sama atau tertentu.

Simak juga:

Konversi pakan merupakan suatu indikator yang dapat menerangkan tingkat efisiensi penggunaan pakan, dimana semakin rendah angkanya berarti semakin baik konversi pakan tersebut. Data hasil penelitian terhadap pertumbuhan, konsumsi dan efisiensi penggunaan pakan berbahan ampas tahu disajikan pada Tabel 2.

Sumber: Syamsu Bahar (BPTP Jakarta, 2017)

REVIEW OVERVIEW
Ampas Tahu
Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here