Perkebunan Pemanfaatan dan Nilai Jual Kemiri Sunan di Kabupaten Garut

Pemanfaatan dan Nilai Jual Kemiri Sunan di Kabupaten Garut

1
Bagikan

Kabartani.com – Tanaman kemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) sudah dikenal oleh masyarakat Kabupaten Garut sejak abad ke-17. Di daerah ini kemiri sunan dikenal dengan nama kaliki Banten. Menurut informasi tokoh masyarakat, biji kemiri sunan sejak dahulu dimanfaatkan untuk bahan bakar lampu penerangan dirumah atau masjid, ketika diadakan acara pengajian.

Selain itu, biji tersebut sering digunakan oleh masyarakat sebagai penerangan (obor) dimalam hari. Namun demikian, biji kemiri sunan belum diperjual-belikan, untuk keperluan penerangan. Masyarakat memperolehnya secara cuma-cuma/gratis (Balittri, 2011; Puslitbangbun 2014).

Setelah kemiri sunan yang berasal dari Kabupaten Garut ditetapkan sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia masing-masing dengan nama Kemiri Sunan 1 (tahun 2011), Kermindo 1 dan Kermindo 2 (tahun 2014) maka pemanfaatan buah dan biji kemiri sunan semakin beragam.

Kulit buah biji kemiri juga dimanfaatkan sebagai sebagai pupuk organik untuk tanaman padi di sawah dan minyak dari biji kemiri sunan digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan serangan hama.

Daging biji (kernel) digunakan untuk mengendalikan serangan tikus di sawah, dengan cara kernel dipotong-potong kecil, kemudian ditebarkan di sawah. Tikus menyukai dan akan memakan potongan kernel tersebut, namun beberapa saat kemudian tikus akan mati (Balittri 2011; Puslitbangbun 2014).

Seiring dengan semakin meningkatnya permitaan biji kemiri sunan baik untuk dijadikan minyak nabati (biodiesel) dan sumber benih pada kegiatan reklamasi lahan bekas tambang atau konservasi lahan di dataran tinggi (lahan curam), maka harga biji kemiri sunan dari tahun ke tahun pun semakin meningkat.

Jika pada tahun 2009 biji kemiri sunan dijual oleh pedagang pengumpul dengan harga Rp 1.500/ kg, tahun 2011 meningkat menjadi Rp 5.000/kg (Kemiri Sunan 1) dan pada tahun 2015 kembali meningkat menjadi Rp 25.000/kg (Kemiri Sunan 1, Kermindo 1 dan Kermindo 2).

Biji yang dijual berasal dari buah yang jatuh (buah matang fisiologis) dari pohon kemiri sunan. Setelah buah dikupas, biji kemiri sunan disortir dan yang terpilih disimpan didalam karung plastik transparan.

Selain menjual biji, petani juga menjual batang atas (entres) yang berasal dari pohon induk varietas unggul yang terdapat di Desa Banyuresmi (Kemiri Sunan 1), Desa Limbangan Tengah (Kermindo 1) dan Desa Surabaya (Kermindo 2). Entres yang dijual yaitu entres yang sedang tidak flush (keluar pucuk) dan tanaman kemiri sunan sedang dalam fase vegetatif (tidak berbunga).

Pengambilan entres dilakukan dengan menggunakan tongkat panjang (galah) yang ujungnya dipasang pisau. Entres kemudian dipotong dengan ukuran panjang 7 – 10 cm dan dikumpulkan dalam dus. Satu buah entres dijual oleh petani dengan harga Rp 2.000.

Keberadaan tanaman kemiri sunan di Kabupaten Garut dapat meningkatkan pendapatan petani. Pendapatan tersebut diperoleh dari hasil penjualan biji maupun entres kemiri sunan asal varietas unggul (Kemiri Sunan 1, Kermindo 1 dan Kermindo 2).

Loading...

1 KOMENTAR

  1. Halo. Artikelnya sangat bagus, terima kasih. Saya punya beberapa pertanyaan. Nama daerah lokasi budidaya kemiri sunan Garut ini apa ya? Kemudian lokasi pengolahannya menjadi biodiesel dimana? Apa proses ekstraksi yang dilakukan hanya pres hidrolik seperti pada gambar? Saya mau datang melihat langsung untuk keperluan tesis. Kalau boleh saya juga mau minta kontak yang bisa saya hubungi. Terima kasih banyak.

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here