Peternakan Pakan Ternak Pemanfaatan Rumput Ruzi Sebagai Pakan Kambing

Pemanfaatan Rumput Ruzi Sebagai Pakan Kambing

0
Bagikan

Rumput ruzi merupakan salah satu jenis hijauan pakan ternak yang sangat disukai ternak kambing, sehingga tidak membutuhkan masa adaptasi untuk mencapai tingkat konsumsi pakan maksimal. Rumput ruzi tergolong kepada jenis rumput yang relatif toleran terhadap injakan, dan tanaman ini relatif tinggi serta membentuk stolon maka dapat dimanfaatkan baik sebagai rumput potongan, maupun untuk pengembalaan.

Dilaporkan bahwa ternak kambing, domba dan anak sapi lebih sentisitif terhadap fotosensitisasi bila diberikan rumput Brachiaria dari berbagai kultivar, termasuk kultivar ruziziensis. Fotosensitisasi adalah gangguan pada kulit ternak akibat sangat sensitif terhadap sinar matahari yang disebabkan oleh jamur yang tumbuh pada rumput Brachiaria.

Akan tetapi, pengalaman di Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih, dimana rumput ruzi telah menjadi salah satu sumber hijauan yang utama baik dengan cara potong-angkut ataupun pengembalaan tidak pernah mengalami adanya kasus fotosensitisasi pada ternak kambing yang dipelihara.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena hijauan yang diberikan merupakan campuran dari beberapa jenis rumput. Oleh karena itu, dalam memanfaatkan rumput ruzi, sebaiknya tanaman ini tidak diberikan sebagai pakan tunggal dalam waktu lama, tetapi sebaiknya diberikan bersama jenis hijauan pakan lain.

Apabila ternak tidak digembalakan dan hanya dikandangkan, maka pemberian rumput ruzi sebagai pakan tunggal dapat dilakukan, karena kemungkinan timbulnya kasus fotosensitisasi menjadi sangat kecil. Rumput ruzi dapat gunakan dengan cara potong-angkut, dan diberikan sebanyak 15-20% dari bobot tubuh kambing sebagai pakan dasar.

Berdasarkan kandungan proteinnya, rumput ruzi mampu memenuhi kebutuhan minimal untuk produksi protein mikroba didalam rumen yang merupakan sumber utama protein bagi ternak kambing. Oleh karena itu, pertumbuhan maupun produksi susu pada tingkat sedang masih mungkin diharapkan dengan pemberian rumput ini. Untuk mencapai tingkat produktivitas sesuai kemampuan genetik ternak kambing disarankan memberikan pakan konsentrat sebanyak 1,0% bobot tubuh.

Pemanfaatan rumput ruzi sebagai rumput padang pengembalaan sebaiknya dilakukan secara rotasi dengan membagi areal pengembalaan menjadi beberapa petakan ataupun paddock dengan menggunakan pagar pemisah. Pemagaran bertujuan untuk memberikan waktu istirahat (zero grazing) untuk setiap paddock agar rumput memiliki kesempatan cukup untuk tumbuh secara optimal.

Lama/waktu pengembalaan dalam satu petakan paling optimal adalah 7 (tujuh) hari untuk setiap petak, sehingga rumput yang dimakan lebih dahulu tumbuh masih sangat muda. Namun dengan lama pengembalaan 7 hari dalam setiap petakan akan dibutuhkan lebih banyak petakan dan biaya pemagaran menjadi mahal.

Adapun keuntungan dengan cara pemetakan ini adalah produksi dan kualitas hijauan pastura dapat dikendalikan optimal, infestasi/kontaminasi cacing parasit menjadi lebih rendah karena ada periode istirahat dan produksi ternak akan lebih baik, sedangakan kelemahannya adalah biaya pagar lebih tinggi.

Sebagai padang pengembalaan Brachiaria ruziziensis termaksud salah satu rumput yang tahan renggutan dan injakan dengan perakaran yang kuat. Tumbuhnya juga menjalar, sehingga rumput ini dapat dengan cepat tumbuh merapat dan menutup tanah. Oleh karena itu, jenis rumput ini juga cocok digunakan untuk menahan erosi dan dapat ditanam pada lereng-lereng gunung, pinggiran aliran sungai dan tanah miring lainnya yang rawan longsor.

Pemanfaatan rumput ruzi dapat pula dilakukan dengan cara “potong-angkut” untuk sistem pemeliharaan ternak sepenuhnya didalam kandang. Pemeliharaan ternak sepenuhnya didalam kandang memudahkan perawatan dan pengawasan.

Pemanfaatan dengan cara “potong-angkut” membutuhkan biaya operasional seperti minyak (bahan bakar) untuk pemotongan rumput dan pengangkutannya seta tenaga upahan untuk memotong rumput, melangsir dan bongkar muat.

Simak juga :

Oleh : Rijanto Hutasoit, Juniar Sirait, Simon P Ginting (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2009)

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here