Penerapan Teknologi Red Water System Pada Budidaya Ikan Lele

Penerapan Teknologi Red Water System Pada Budidaya Ikan Lele

0
Bagikan

Kabartani.com – Red Water System pada budidaya ikan Lele, saat ini sudah banyak dilakukan oleh para pembudidaya ikan ikan lele. Red Water System sendiri merupakan cara baru dalam budidaya ikan lele di Indonesia.

RWS itu memanfaatkan bakteri Lactobacillus dan bakteri Sakaromises dalam proses pembesaran benih ikan lele tanpa mengganti air kolam hingga panen, dengan cara fermentasi.

Ada bebarapa tahap pengolahan air untuk budidaya ikan lele ini, yaitu dengan menggunakan NWS (Natural Water System) adalah suatu sistem yang mencakup semua sistem yang ada dalam budidaya ikan dan juga sebagai sistem pemahaman bahwa pembudidayaan lele sampai akhir akan melewati beberapa perubahan warna air mulai dari GWS Ggreen Water System) berubah menjadi BWS (Brown Water System/Biofloc) dan akan menjadi RWS (Red Water System/Muba) ketika terjadi perubahan warna berarti terjadi perubahan mikroba.

Perubahan Warna Air pada Teknologi Red Water System Pada Budidaya Ikan Lele - Kabartani

Mikroba yang satu mati dan diganti mikroba yang lain, kondisi ini yang membuat ikan perlu dibantu untuk beradaptasi. Dari sini petani diberi pemahaman tentang karakteristik warna-warna air kolam ikan, agar setiap melalui warna ini tidak terjadi permasalahan yang membahayakan ikan.

Simak juga Cara Membuat Probiotik Suplemen Campuran Pakan Ikan Lele

Perubahan warna air kolam ikan menjadi merah disini terjadi secara alami (natural). Bagi petani yang memiliki air melimpah, sebaiknya menggunakan GWS (Green Water System), namun bagi Anda yang kesulitan mendapatkan air, teknologi RWS (Red Water System) sangat cocok untuk anda terapkan.

Di warna-warna air itu semua bisa menggunakan kepadatan tinggi dan fcr bisa 1-0,7, jika petani sudah agak trampil kita sarankan untuk ke tingkatan sampai RWS (Red Water System), karena sistem ini ikan paling nyaman, dan stabil atau kokoh sampai panen.

Bagi para pembudidaya lele pada umumnya akan merasa khawatir dengan adanya tumpukan kotoran ikan dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam, tentu hal ini dapat mengganggu kesehatan ikan. Namun, dalam teknologi Red Water System ini, kotoran dan sisa pakan itu justru menjadi makanan utama bagi bakteri Lactobacillus dan bakteri Sakaromises.

Supaya tidak terjadi booming kotoran dan sisa pakan ikan yang tak terserap semua oleh kedua bakteri itu, maka penting untuk memberi Arang dipinggir-pinggir dinding kolam bagian dasar sebanyak 1 Kg/m3, ini berfungsi untuk menyerap sisa kotoran dan sisa pakan ikan yang tak dimakan oleh bakteri Lactobacillus dan bakteri Sakaromises di dalam air kolam lele.

Kolam Red Water System hanya ideal untuk penebaran benih ikan lele dalam jumlah 300 ekor/m3 (tanpa aerasi) dan 500 ekor/m3 (dengan bantuan aerasi) tanpa perlu ganti air hingga panen. Sistem ini sangat cocok bagi Anda yang terlalu sibuk dengan kegiatan lain ataupun yang malas berurusan dengan sedot-menyedot kotoran ikan lele di dasar kolam.

Lalu bagaimana pembuatan Red Water System pada kolam lele ini? simak informasinya berikut ini: Proses Pembuatan Red Water System (RWS) Untuk Kolam Ikan Lele

REVIEW OVERVIEW
Penerapan RWS
Bagikan
Saya adalah orang yang tertarik pada dunia teknologi dan pertanian, dengan mengolaborasikan keduanya menjadikan sesuatu yang sangat menarik bagi saya.
Loading...

TIDAK ADA KOMENTAR

BERI BALASAN