Pengaruh Pengunaan Saponin dan Serbuk Biji Pinang Terhadap Mortalitas Keong Mas

Pengaruh Pengunaan Saponin dan Serbuk Biji Pinang Terhadap Mortalitas Keong Mas

0
SHARE

KABARTANI.COM – Keong Mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata L.) merupakan salah satu hama bagi para petani padi, karena menyebabkan kerusakan yang tinggi serta perkembangannya yang begitu cepat, sehingga merusak padi dan jenis tumbuhan air lainnya. Keong Mas terkenal sebagai hama yang sangat rakus. Satu individu keong mas dalam 10-15 menit mampu menghabiskan satu rumpun padi yang berumur antara 15-30 hari. Penggunaan pestisida dalam bidang pertanian yang semakin meningkat telah menimbulkan dampak negatif sehingga menurunkan kualitas lingkungan yang diakibatkan oleh kontaminasi pestisida.

Akibat lanjut dari hal tersebut adalah timbulnya masalah pencemaran pada perairan yang harus mendapat perhatian serius yaitu misalnya kematian ikan-ikan di sawah, kolam atau sungai.

Upaya dalam pengendalian hama secara terpadu harus dikembangkan. Teknik pengendalian secara mekanis yang saat ini telah diterapkan, perlu dipadukan dengan teknik pengandalian lainnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT).

Salah satu teknik pengendalian yang dikembangkan dalam PHT adalah pemanfaatan bahan tumbuhan sebagai pestisida nabati. Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di Benua Pasifik, Asia dan Afrika bagian Timur. Biji pinang mengandung arecoline, yaitu senyawa alkaloid aktif. Selain arecoline, pinang juga mengandung, arecaidine, arecaine, guvacine, arecolidine, guvacoline, isoguvacoline, dan coline. Efek yang ditimbulkan oleh pinang terutama disebabkan oleh bahan aktifnya, yaitu arecoline yang merupakan alkaloid utama buah pinang.

Menurut penelitian yang dilakukan Husni dan Sabdi (2016) dari Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, menunjukkan bahwa:

Laju Konsumsi

Gambar 1. Rata-rata laju komsumsi keong mas pada berbagai dosis saponin dan serbuk biji pinang. (K= 0.00; S1= 0.125; S2= 0.250; S3= 0.375; S4= 0.500; P1= 2; P2= 4; P3= 6; P4= 8; P5= 10 g bak-1). Huruf yang berbeda diatas bars menunjukkan perbedaan yang nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 0,05.
Gambar 1. Rata-rata laju komsumsi keong mas pada berbagai dosis saponin dan serbuk biji pinang.

Hasil pengamatan terhadap laju konsumsi hama keong mas setelah diperlakukan dengan saponin dan serbuk biji pinang dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian saponin dan serbuk biji pinang berpengaruh tehadap laju konsumsi hama Keong Mas.

Gambar 1 memperlihatkan bahwa pemberian saponin dan penggunaan serbuk biji pinang sangat efektif dalam menghambat laju konsumsi Keong Mas walau pada dosis yang sangat rendah. Laju konsumsi Keong Mas pada perlakuan dengan serbuk biji pinang berkisar 4.20- 7.45 g per hari. Pada perlakuan dengan saponin laju konsumsi sekitar 15.59-20.29 g per hari, sedangkan pada perlakuan tanpa pestisida masih 25.39 g per hari.

Penurunan laju konsumsi keong mas terjadi akibat senyawa aktif pada serbuk biji pinang dan saponin yang digunakan. Hudson (1980), menyatakan bahwa saponin dapat menghambat kerja enzim proteolitik yang menyebabkan penurunan daya cerna makanan dan penggunaan protein serta iritasi pada selaput lendir yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah.

Mortalitas Keong Mas

Gambar 2. Perkembangan mortalitas keong mas akibat pengaruh perlakuan saponin dan serbuk biji pinanghingga 38 jam setelah aplikasi.
Gambar 2. Perkembangan mortalitas keong mas akibat pengaruh perlakuan saponin dan serbuk biji pinang hingga 38 jam setelah aplikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian serbuk biji pinang dan saponin berpengaruh terhadap mortalitas Keong Mas. Mortalitas Keong Mas mulai terlihat pada perlakuan serbuk biji pinang pada dua jam setelah aplikasi (JSA) dengan tingkat mortalitas 10% pada perlakuan dosis tertinggi P5 (10 g per bak), P4 (8 g per bak) dan 3.33% pada perlakuan P3 (6 g per bak). Sedangkan pada perlakuan saponin mortalitas keong mas baru terlihat pada tujuh jam setelah aplikasi pada dosis tertinggi (0.500 g per bak) yaitu 3.33%.

Pada pengamatan 11 JSA pada perlakuan P3, P4, P5, kematian keong mas telah lebih 90%. Bahkan pada 12 JSA pada perlakuan P3, P4 dan P5 kematian keong mas telah mencapai 100%. Sedangkan pada perlakuan saponin, tingkat kematian 100% baru terjadi pada 33 JSA pada perlakuan S4.

Hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa persentase mortalitas Keong Mas lebih cepat terjadi pada perlakuan serbuk biji pinang dibandingkan perlakuan dengan saponin. Data pengamatan diatas menunjukkan bahwa serbuk biji pinang mengandung senyawa yang mempunyai toksitas yang lebih tinggi
terhadap Keong Mas dibandingkan saponin. Salah satu senyawa yang terdapat dalam biji pinang adalah arecoline.

Senyawa kimia arecoline masuk kedalam sistem syaraf Keong Mas sehingga menyebabkan Keong Mas menjadi kaku, berlendir penurunan aktivitas gerak, tubuhnya akan keluar dari cangkangnya dan akan terurai sampai pada akhirnya membusuk (Wijayakusuma, 1996).

Terjadinya mortalitas diduga karena adanya zat-zat dalam biji pinang yang masuk kedalam sistem syaraf Keong Mas sehingga dapat merusak otak dan kerja organ otot hingga organ tubuh lainnya sehingga menjadi terhambat dan akhirnya akan menyebabkan kematian.

Gambar 2 juga menunjukkan bahwa walaupun dengan kerja saponin lebih lambat dibandingkan serbuk biji pinang namun pada perlakuan S4 pada 33 JSA menunjukkan kematian Keong Mas sebesar 100%.

Kematian Keong Mas terjadi setelah aplikasi saponin, karena senyawa racun tersebut dapat menghambat pertukaran oksigen untuk bernafas dan akhirnya mati lemas. Gejala keracunan ini merupakan gejala yang disebabkan oleh saponin yang bersifat racun pernafasan.

Waktu Kematian Keong Mas

Gambar 3. Rata-rata waktu kematian Keong Mas pada berbagai dosis saponin dan serbuk biji pinang.
Gambar 3. Rata-rata waktu kematian Keong Mas pada berbagai dosis saponin dan serbuk biji pinang.

Gambar 3 menunjukkan waktu kematian Keong Mas pada dosis yang dicobakan pengunaan serbuk biji pinang lebih cepat dari pada saponin. Pada gambar di atas terlihat bahwa pada dosis serbuk biji pinang (P1, P2, P3, P4, P5) kecepatan kematian Keong Mas berkisar antara 10-12 JSA. Pada dosis saponin (S1, S2, S3, S4) kecepatan mati Keong Mas berkisar antara 22-29 JSA.

Kesimpulan
Semakin tinggi dosis saponin dan serbuk biji pinang yang diberikan, semakin rendah laju konsumsi Keong Mas. Pemberian saponin dan serbuk biji pinang mampu menghambat laju konsumsi Keong Mas pada dosis terendah (0.125 g saponin bak-1) dan (2 g serbuk biji pinang bak-1).

Semakin tinggi dosis saponin dan serbuk biji pinang yang diberikan, semakin tinggi mortalitas Keong Mas. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis yang aman terhadap biota air dalam mengendalikan Keong Mas, saponin 0.125 g bak-1, sedangkan serbuk biji pinang 2 g bak-1.

Rata-rata waktu kematian Keong Mas akibat aplikasi saponin pada dosis yang dicobakan berkisar antara 10-12 jam, sedangkan rata-rata waktu kematian Keong Mas akibat aplikasi serbuk biji pinang berkisar antara 22-29 jam.

Lalu bagaimana, implementasi saponin dan serbuk biji pinang? bisa anda simak di link berikut ini Penggunaan Saponin dan Serbuk Biji Pinang Untuk Mengatasi Hama Keong Mas.

Itulah informasi mengenai Pengaruh Pengunaan Saponin dan Serbuk Biji Pinang Terhadap Mortalitas Keong Mas, dengan informasi tersebut, untuk kedepannya pemanfaatan saponin dan serbuk biji pinang untuk mengendalian hama keong mas bisa lebih dimaksimalkan. Terima kasih.