Penggunaan Pestisida Berlebihan Picu Ledakan WBC (Wereng Batang Coklat)

Penggunaan Pestisida Berlebihan Picu Ledakan WBC (Wereng Batang Coklat)

0
Bagikan

Kabartani.com – Fenomena ledakan WBC (Wereng Batang Coklat) yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti saat ini, selain karena faktor agroklimat ternyata juga dipicu oleh penggunaan pestisida.

Berdasarkan hasil penelitian IPB yang dilakukan sejak tahun 1986 hingga sekarang, menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara wereng dan penggunaan pestisida.

Menurut peneliti dari Departemen Proteksi Tanaman, IPB, Dr Hermanu Triwidodo mengatakan bahwa penggunaan pestisida mendorong peningkatan serangan wereng. Semakin sering penggunaan pestisida, maka peluang terjadinya puso semakin besar.

“Penyebab ledakan adalah pemaksaan penanaman padi yang terus-menerus tanpa jeda, penggunaan insektisida yang terlarang untuk padi, serta pemupukan yang tidak seimbang, serta kesuburan tanah yang kritis,” ujar Hermanu, seperti dilansir dari republika.com (09/06/17).

Petani padi melakukan penyemprotan pestisida akibat serangan wereng (Foto DP)

Hermanu juga mengatakan, penggunaan pestisida yang meliputi insektisida, fungisida, herbisida dan bakterisida pada pertanaman padi sawah sangat tinggi. Misalnya di Karawang (Jawa Barat) rata-rata 11 kali per musim, sedangkan di Klaten (Jawa Tengah) 12 kali per musim.

“Hal ini melemahkan ketahanan ekosistem sawah karena matinya serangga musuh alami, kematian mikrob endofit, kerusakan keanekaragaman hayati mikroflora dan mesofauna dan rusaknya jaring makanan yang kompleks di sawah,” ujar Hermanu.

Ledakan wereng coklat tersebut disebabkan oleh adanya spot populasi wereng coklat di hampir semua daerah sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Di samping itu “Faktor lainnya adalah penggunaan pestisida yang berlebihan. Sebabnya marketing dan distribusi pestisida yang tidak terkontrol, kekalahan pelayanan pemerintah di bidang pertanian dibanding kios pestisida, banyaknya bantuan pestisida oleh pemerintah, dan petani lupa akan Pengendalian Hama Terpadu (PHT),” imbuhnya.

Simak juga Membuat Ramuan Alami Untuk Mengatasi Hama Wereng Cokelat

Untuk mengatasi itu, Hermanu merekomendasikan penegasan kembali Inpres No. 3 Tahun 1986 tentang penerapan PHT dan pelarangan 57 jenis insektisida dan pelarangan terhadap pestisida lain penyebab resurgensi wereng pada tanaman padi. Juga, moratorium pengadaan pestisida oleh pemerintah serta pengalokasian pendidikan petani dan pemberdayaan pembuatan sarana pengendalian ramah lingkungan.

“Untuk musim tanam yang sedang berlangsung, jika terpaksa menggunakan pestisida, harus menggunakan pestisida yang mendapat izin penggunaan untuk wereng. Jajaran penyuluh harus secara proaktif memberikan penyuluhan, jangan menyerahkannya pada kios penjual racun. Perlu penataan kembali regulasi pengelolaan pestisida mulai pendaftaran, produksi, distribusi, pemasaran dan pemusnahannya,” paparnya.

Pengendalian Hama Wereng Batang Cokelat - Kabartani

Hermanu juga menegaskan, pentingnya peningkatan kerja sama dan koordinasi antara Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi petani dalam pengembangan upaya penanggulangan ledakan wereng.

Simak juga Populasi Wereng Hijau dan Strategi Pengendalian Penyakit Tungro Pada Padi

“Sinkronisasi dan harmonisasi kinerja aparat pertanian secara vertikal (pusat-daerah) dan horisontal (antar lembaga pelayanan pertanian) perlu ditingkatkan untuk mengatasi serangan WBC,” tutur Hermanu Triwidodo.

Sumber: republika.co.id

Loading...

TIDAK ADA KOMENTAR

BERI BALASAN