Pertanian Penyebab dan Pengendalian Antraknosa pada Cabai

Penyebab dan Pengendalian Antraknosa pada Cabai

0
Bagikan

Kabartani.com – Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa antraknosa atau yang lebih dikenal dengan istilah Patek adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani cabai, karena bisa menyebabkan kegagalan panen. Sudah banyak petani yang menjadi korban keganasan penyakit ini.

Produksi cabai rawit di sejumlah sentra penghasil Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Barat anjlok akibat serangan penyakit patek selama musim hujan. Hal ini menyebabkan tanaman cabai siap panen banyak yang membusuk. Akibat penurunan produksi ini, petani mengalami kerugian karena tidak bisa mencapai panen yang optimal.

Jika tanaman cabai sudah mulai terkena antraknosa, maka pengendaliannya akan sulit dilakukan. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai keriting, cabai besar, dan cabai rawit karena menyebabkan kerugian bagi para petani. Kehilangan hasil cabai diperkirakan berkisar antara 20-90% terutama pada saat musim penghujan.

Patogen utama penyakit antraknosa pada cabai di Indonesia paling banyak disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum Simmon. Namun berbagai negara telah melaporkan bahwa ada lima jenis Colletotricum yaitu C. capsici (Sydow) Bull & Bysby dan C. gloeosporioides (Penz) Penz. & Sacc, C. acutatum Simmon, C. coccodes (Wallr.), dan C. gramicola (Cess).

Jamur merupakan penyebab utama penyakit antraknosa pada tanaman cabai di daerah panas dan lembab di Asia. Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur C. acutatum dapat menyerang semua fase buah cabai, baik yang masak maupun yang masih muda, tetapi tidak menyerang daun dan batang tanaman cabai.

Gejala Serangan

Gambar 1. Gejala serangan penyakit antraknos pada tanaman cabai keriting dan cabai rawit (Sumber foto: Hasyim A/Balitsa/2014)

Gejala serangan penyakit antraknosa atau patek mula-mula membentuk bercak coklat kehitaman kemudian menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri atas kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput).

Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti merah jambu keabu-abuan atau kehitaman. Pada saat buah berpenyakit dipotong terbuka, permukaan bawah kulit ditutupi dengan sekumpulan koloni berwarna hitam atau sclerotia dari jamur. Sebuah gulungan hifa jamur menyelimuti benih. Biji seperti berkarat menempel pada buah yang cacat, berwarna putih dan mengalami kehilangan kepedasan.

Jika cuaca kering jamur hanya membentuk bercak kecil yang tidak meluas, namun setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat. Ledakan penyakit antraknos ini sangat cepat terutama pada saat musim penghujan.

Mekanisme Kerja Penyakit Anthraknos Pada Cabai Merah

Penyakit ini dapat distimulir oleh keadaan udara yang lembab dan kering. Siklus hidup C. acutatum yang menyerang tanaman cabai umumnya sekitar 20 hari di daerah dataran tinggi, dan di daerah dataran rendah 7-12 hari. Jamur pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Akhirnya jamur menginfeksi tanaman di persemaian yang tumbuh dari biji buah yang sakit karena konidium jamur dapat bertahan dalam waktu yang lama.

Jamur menyerang daun, batang, dan dapat menginfeksi buah cabai. Jamur C. acutatum, sedikit sekali mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi dapat bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu jamur dapat mempertahankan diri dalam sisa-sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin. Infeksi C. acutatum hanya terjadi melalui luka. Luka pada tanaman bisa disebabkan oleh serangga atau gesekan mekanis oleh angin.

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here