Pertanian Tanaman Pangan Tips SUKSES Budidaya Jagung Hibrida Dilahan Kering

Tips SUKSES Budidaya Jagung Hibrida Dilahan Kering

0
Bagikan

Kabartani.com – Budidaya jagung dilahan kering mempunyai karakteristik, yaitu curah hujan yang sedikit dan tidak merata, sehingga seringkali terjadi gagal panen akibat cekaman kekurangan air, terutama untuk pertanaman II. Selain itu, sifat tanah yang porus dimana tanah tidak mampu memegang air dalam jangka waktu yang lama menyebabkan varietas menjadi rentan terhadap cekaman.

Agar diperoleh produksi yang tinggi, maka benih yang digunakan sebaiknya mempunyai ketahanan terhadap kekeringan serta berumur pendek/genjah. Beberapa varietas yang toleran kekeringan diantaranya Bima 3, Bima 7, Bima 8 dan Bima 14. Selain itu benih komposit unggul juga dapat ditanam pada lahan kering, karena lebih toleran terhadap cekaman kekeringan seperti Lamuru, Gumarang dan Bisma.

Waktu paling tepat untuk penanaman adalah awal musim hujan, antara bulan September sampai Oktober. Teknik budidaya seperti penanaman, pemupukan, penyiangan dan pengendalian hama sama dengan teknik budidaya pada lahan sawah tadah hujan. Perbedaannya untuk budidaya pada lahan kering hanya bergantung pada air hujan. Di lahan kering jagung dapat juga ditumpangsarikan dengan tanaman kacang-kacangan.

A. Benih

Agar diperoleh produksi yang tinggi pilihan benih yang baik, mengkilap, tidak keriput, sehat dan tidak tercampur kotoran atau varietas lain. Daya tumbuh benih minimal 90%. Kebutuhan benih oer hektar berkisar antara 15-20 kg. Untuk mencegah serangan penyakit bulai, diperlukan perlakuan benih, yaitu 1 kg benih dicampur dengan 2 kg ridomil atau saromil yang dilarutkan dalam 7,5 – 10 ml air. Jagung hibrida Bima 3, Bima 14 dan Bima 16, disamping produktivitas tinggi juga toleran terhadap penyakit bulai.

B. Penyiapan Lahan dan Penanaman

Sebelum penanaman, tanah hendaknya diolah sedalam 15-20 cm untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase, mendorong aktivitas mikroba tanah sekaligus mematikan gulma. Pada tanah gembur/ringan sistem tanpa olah tanah (TOT) juga dapat diterapkan. Simak juga Panduan Menanam Jagung Menggunakan Metode Tanpa Olah Tanah (TOT)

Penanaman dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5 cm. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 cm x 20 cm untuk 1 tanaman per lubang atau 75 cm x 40 cm untuk 2 tanaman per lubang. Setelah benih ditanam, sebaiknya ditutup dengan pupuk kandang atau tanah.

C. Pemupukan dan Penyiangan

Hara yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, dimulai dari pertumbuhan vegetatif sampai dengan keluar malai. Untuk mendukung kegiatan fotosintesis, agar hasil panen tinggi, diperlukan pemupukan yang tepat waktu.

Takaran pupuk yang dianjurkan adalah ± 250 kg urea/ha + Ponska 300 kg/ha. Pupuk diberikan dua kali, pertama 7-20 hari setelah tanam dengan dosis 300 kg/ha ponska dan kedua 30-35 hari setelah tanam dengan dosis 250 kg/ha urea.

Pupuk diberikan dalam lubang/larikan ±10 cm disamping tanaman dan ditutup dengan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali, pertama pada umur 15 hari setelah tanam dan kedua pada umur 28-30 hari sebelum pemupukan kedua.

Simak juga :

D. Pengairan

Jagung membutuhkan air yang cukup untuk mendukung proses fotosintesis, sehingga pengisian biji menjadi optimal, khusus pada pertanaman musim kemarau atau saat tidak ada hujan, disarankan untuk mengairi tanaman pada saat sebelum tanam, 15 hst, 30 hst, 45 hst, 60 hst, dan 75 hst (6 kali pemberian). Sumber air dapat berupa irigasi permukaan atau air tanah dangkal (sumur) dengan pemompaan.

E. Pengendalian Hama dan Penyakit

Salah satu kunci sukses budidaya jagung adalah terbebasnya pertanaman dari serangan hama/penyakit. Penyakit utama jagung adalah bulai. Selain perlakuan benih, penyakit bulai juga dapat dicegah dengan perbaikan sanitasi lingkungan pertanaman, karena jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang bulai.

Simak juga :

Rotasi tanaman dengan tanaman selain jagung juga dapat dilakukan untuk memutus inokulum bulai. Adapun hama utama jagung adalah penggerek batang yang dapat dikendalikan dengan pemberian insektisida Carbofuran (Furadan 3G) melalui pucuk tanaman (3-4 butir/tanaman).

F. Panen

Jagung dapat dipanen ketika kelobot sudah mengering dan berwarna coklat muda, biji mengkilap dan apabila ditekan dengan kuku tidak membekas. Umur panen bervariasi antara 80-105 hst. Setelah panen diperlukan pengeringan yang cukup sebelum jagung dipipil agar biji tidak retak/pecah.

Loading...

BERI BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here